Dalam dunia kerja, wajar jika perusahaan memberikan fasilitas harga khusus kepada karyawannya untuk membeli produk yang diproduksi atau dijual oleh perusahaan tersebut. Berdasarkan regulasi terbaru terkait natura dan kenikmatan, fasilitas ini dikategorikan sebagai "Fasilitas Pengurangan Harga".
Prinsip utama yang perlu Anda pegang adalah: Titik acuan perpajakan bukanlah Harga Pasar (Harga Jual Normal), melainkan Harga Pokok Penjualan (HPP). Fasilitas diskon dianggap sebagai penghasilan (Objek PPh 21) bagi karyawan hanya jika harga yang dibayar karyawan lebih rendah dari HPP barang tersebut.
Berikut adalah analisis untuk ketiga skenario yang Anda tanyakan:
1. Skenario Produk Diberikan Cuma-Cuma (Gratis)
Jika perusahaan memberikan produknya secara gratis kepada karyawan, maka terjadi pengalihan barang tanpa pembayaran.
- Aspek PPh 21: Seluruh nilai Harga Pokok Penjualan (HPP) dari barang tersebut dihitung sebagai penghasilan bruto karyawan dalam bentuk natura/kenikmatan pada bulan diterimanya barang.
-
Contoh Kasus: PT Garmen Indah memproduksi kemeja dengan HPP Rp150.000. Harga jual di toko adalah Rp300.000. Perusahaan memberikan 1 kemeja gratis kepada Tuan A (karyawan).
- Penghasilan Kena Pajak Tuan A: Rp150.000 (Senilai HPP).
- Perusahaan memotong PPh 21 atas tambahan penghasilan Rp150.000 tersebut.
2. Skenario Dibayar di Bawah Harga Pokok (HPP)
Jika karyawan membeli produk, namun harga yang dibayar sangat murah hingga di bawah modal perusahaan (HPP).
- Aspek PPh 21: Seluruh selisih antara HPP dengan Harga yang Dibayar Karyawan adalah objek PPh 21.
- Rumus: Penghasilan = HPP - Harga Bayar Karyawan
-
Contoh Kasus: PT Elektronik Maju menjual Laptop dengan HPP Rp5.000.000. Harga pasar Rp8.000.000. Karena Tuan B adalah karyawan teladan, ia boleh membeli Laptop tersebut seharga Rp3.000.000.
- Analisis: Harga bayar (3 juta) < HPP (5 juta).
- Penghasilan Kena Pajak Tuan B: Rp5.000.000 - Rp3.000.000 = Rp2.000.000.
- Angka Rp2 juta ini ditambahkan ke gaji bruto Tuan B bulan itu untuk dipotong pajak.
3. Skenario Dibayar Sedikit di Atas HPP (Di Bawah Harga Pasar)
Ini adalah skenario yang paling umum. Karyawan mendapat diskon besar dibandingkan harga pasar, namun perusahaan tidak "rugi modal" karena harga bayar masih di atas atau sama dengan HPP.
- Aspek PPh 21: Bukan Objek Pajak. Tidak ada penghasilan tambahan yang harus dicatat atau dipotong pajaknya.
- Alasan: Selama karyawan membayar lebih tinggi atau sama dengan biaya yang dikeluarkan perusahaan (HPP) untuk barang tersebut, maka tidak ada nilai kenikmatan kena pajak yang diterima, meskipun harganya jauh lebih murah dari harga pasar.
-
Contoh Kasus: PT Otomotif Jaya memproduksi motor dengan HPP Rp15.000.000. Harga jual normal ke konsumen Rp25.000.000. Nyonya C (karyawan) membeli motor tersebut dengan harga spesial Rp16.000.000.
- Analisis: Harga bayar (16 juta) > HPP (15 juta).
- Penghasilan Kena Pajak: Rp0 (Nihil).
- Meskipun Nyonya C "untung" diskon 9 juta dari harga pasar, secara perpajakan tidak ada objek PPh 21 karena ia membayar di atas HPP.
Kesimpulan
Bagi tim Payroll atau Pajak perusahaan, data krusial yang diperlukan bukan hanya harga diskon, melainkan data HPP (Cost of Goods Sold) dari bagian akuntansi. PPh 21 hanya muncul jika perusahaan "mensubsidi" harga barang hingga di bawah biaya modalnya.
Referensi Peraturan:
- Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66 Tahun 2023 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan atas Penggantian atau Imbalan Sehubungan dengan Pekerjaan atau Jasa yang Diterima atau Diperoleh dalam Bentuk Natura dan/atau Kenikmatan (Pasal 22 ayat 1 huruf b).
- Nota Dinas Direktur Jenderal Pajak Nomor ND-14/PJ/PJ.02/2024 (Lampiran A Angka 1: Contoh Penentuan Penghasilan Berupa Penggantian atau Imbalan Kerja Dalam Bentuk Fasilitas Pengurangan Harga (Diskon) Dari Pemberi Kerja).