Lanskap ekonomi nasional pada pertengahan Desember ini menunjukkan tekanan yang signifikan pada sisi pengeluaran maupun pendapatan negara. Pemerintah kini menghadapi tantangan ganda, yakni percepatan penyerapan belanja yang terhambat di berbagai lini serta penurunan setoran pajak dari sektor konsumsi yang mencerminkan lesunya daya beli masyarakat. Ikhtisar ini akan mengulas realisasi belanja negara terkini, pelebaran defisit anggaran, serta kebijakan insentif fiskal untuk bantuan internasional di tengah kondisi makroekonomi yang menantang.
Kementerian Keuangan menunjukkan data defisit APBN yang telah melebar ke angka 2,35% dari PDB hingga akhir November 2025. Pelebaran defisit ini terjadi karena ketidakseimbangan antara laju pengeluaran negara dan penerimaan pajak yang belum optimal di kuartal terakhir. Kondisi tersebut diperburuk oleh otoritas pajak yang mencatat adanya penurunan tajam setoran pajak konsumsi sebesar 6,6%, yang mengonfirmasi bahwa daya beli masyarakat masih berada dalam fase lesu sehingga menekan penerimaan PPN domestik secara signifikan.
Di sisi pengeluaran, realisasi belanja negara hingga November 2025 mencapai angka Rp2.911,8 triliun atau setara dengan tingkat penyerapan sebesar 82,5% dari total pagu. Meskipun sisa anggaran masih cukup besar, Wakil Menteri Keuangan mengakui bahwa percepatan belanja pemerintah pusat dan daerah tidak mudah dilakukan secara instan pada penghujung tahun ini. Kendala administratif serta tantangan teknis di lapangan menjadi hambatan utama bagi pemerintah dalam memacu penyerapan anggaran yang bertujuan mendorong perputaran ekonomi di sisa waktu tahun anggaran.
Guna memberikan fleksibilitas di tengah tantangan fiskal tersebut, Menteri Keuangan telah memaparkan prosedur pembebasan bea masuk untuk bantuan dari luar negeri guna mempermudah arus bantuan kemanusiaan. Kebijakan ini diambil agar pemerintah dapat meminimalkan hambatan logistik bagi organisasi internasional yang ingin berkontribusi dalam kegiatan sosial di Indonesia. Langkah administratif ini menjadi bagian dari upaya kementerian dalam menyederhanakan birokrasi di tengah fokus besar negara untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memastikan dana bantuan dapat tersalurkan dengan lebih efisien.
Dinamika belanja dan penurunan setoran pajak ini membawa implikasi langsung terhadap efektivitas stimulus ekonomi dan postur fiskal 2026. Defisit yang mencapai 2,35% berimplikasi pada berkurangnya ruang gerak fiskal pemerintah, sehingga manajemen pembiayaan utang harus dilakukan secara lebih hati-hati agar tidak membebani tahun depan. Di sisi lain, anjloknya pajak konsumsi sebesar 6,6% berimplikasi pada perlunya evaluasi kebijakan insentif pajak yang lebih tepat sasaran guna memulihkan daya beli kelas menengah. Sementara itu, sulitnya mengebut belanja daerah berimplikasi pada potensi tingginya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA), yang berarti dana publik mengendap di bank dan gagal memberikan efek pengganda (multiplier effect) secara maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi lokal di akhir tahun.
Secara keseluruhan, pemerintah saat ini tengah berada dalam posisi sulit untuk menyeimbangkan antara disiplin anggaran dan kebutuhan untuk menstimulasi ekonomi yang sedang lesu. Realisasi belanja yang belum maksimal dan penurunan pajak konsumsi menjadi rapor yang memerlukan perhatian serius pada periode transisi anggaran ini. Keberhasilan pemerintah dalam menyederhanakan birokrasi, seperti dalam prosedur bea masuk bantuan, serta efisiensi belanja di sisa hari tahun ini akan menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia tetap resilien.