Fokus kebijakan perpajakan hari ini menyoroti langkah integrasi teknologi canggih dan penegakan hukum agresif untuk mengamankan penerimaan negara. Menteri Keuangan menempuh strategi ganda dengan memperkuat pengawasan di pintu masuk negara melalui kecerdasan buatan (AI) serta melakukan penindakan hukum yang keras terhadap ketidakpatuhan pajak domestik. Upaya ini mencakup penggunaan sistem deteksi otomatis untuk memantau transaksi perdagangan internasional hingga tindakan fisik terhadap penunggak pajak yang membandel. Rangkuman ini akan mengulas implementasi teknologi di kepabeanan dan upaya keras Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam mengejar target setoran.
Menteri Keuangan akan menempatkan unit khusus "kucing penjaga" di berbagai jalur tikus untuk mencegah masuknya barang impor ilegal dan menutup celah penyelundupan di wilayah perbatasan yang sulit terjangkau. Secara bersamaan, Menteri Keuangan meresmikan penggunaan scanner peti kemas yang terintegrasi dengan sistem Trade AI guna mencegah kebocoran penerimaan negara. Infrastruktur baru ini diharapkan dapat mempercepat proses pemeriksaan fisik barang tanpa mengurangi akurasi pengawasan otoritas kepabeanan di pelabuhan.
Penguatan teknologi ini juga mencakup aspek administratif, di mana Menkeu mengeklaim bahwa penggunaan sistem Trade AI telah berhasil mengamankan penerimaan negara sebesar Rp1,2 miliar hanya dari pemeriksaan 145 dokumen impor. Selain itu, Menkeu kini mengoperasikan sistem canggih yang mampu mendeteksi praktik under-invoicing atau manipulasi penurunan nilai faktur pada komoditas impor secara otomatis. Sistem tersebut berfungsi untuk memastikan nilai pabean yang dilaporkan oleh para importir tetap sesuai dengan harga pasar yang sebenarnya.
Sementara pengawasan di perbatasan diperketat, DJP mengambil langkah ekstrem untuk mengejar target setoran dengan melakukan penyanderaan (gijzeling) hingga mempidanakan Wajib Pajak yang tidak patuh. Tindakan tegas ini merupakan bagian dari upaya terakhir otoritas pajak dalam menegakkan disiplin fiskal terhadap para penunggak pajak. Seluruh rangkaian kebijakan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengombinasikan modernisasi teknologi dan supremasi hukum guna menjamin keamanan kas negara.
Langkah-langkah penguatan pengawasan dan penegakan hukum ini memiliki implikasi langsung pada integritas sistem fiskal dan kepatuhan publik. Penggunaan Trade AI dan sistem deteksi under-invoicing berimplikasi pada meningkatnya akurasi pemungutan bea masuk dan pajak impor, yang secara otomatis menutup ruang bagi praktik kecurangan dokumen. Penempatan unit khusus di jalur tikus berimplikasi pada menurunnya volume barang ilegal yang masuk ke pasar domestik, sehingga melindungi industri lokal. Di sisi lain, tindakan penyanderaan dan pemidanaan oleh DJP berimplikasi pada meningkatnya efek jera bagi penunggak pajak, namun di saat yang sama juga mengimplikasikan perlunya kepastian hukum agar tidak menimbulkan kekhawatiran berlebih di kalangan pelaku usaha yang patuh.
Secara keseluruhan, pemerintah sedang menunjukkan sikap tanpa kompromi terhadap segala bentuk kebocoran penerimaan negara, baik di perbatasan maupun di dalam negeri. Sinergi antara modernisasi teknologi pengawasan (Trade AI) dan supremasi hukum yang tegas (penyanderaan Wajib Pajak) menjadi instrumen utama dalam mengamankan kas negara. Fokus ini mencerminkan transisi otoritas fiskal menuju sistem pengawasan yang lebih presisi, transparan, dan berwibawa guna memastikan seluruh kewajiban perpajakan terpenuhi secara maksimal.