Awal tahun 2026 dibuka dengan inflasi Indonesia yang bertahan tinggi di angka 3% akibat lonjakan harga pangan musiman. Konflik geopolitik AS-Venezuela justru memicu respons positif pasar saham global tanpa mengerek harga minyak dunia. Namun, surplus neraca dagang terancam menyusut karena tekanan ekspor komoditas unggulan.
Inflasi tahunan Indonesia menembus angka 2,92% pada Desember 2025 akibat lonjakan permintaan Natal dan Tahun Baru yang mengerek harga pangan bergejolak. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memproyeksikan angka inflasi ini akan bertahan di kisaran 3% pada awal 2026, didorong oleh gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem dan bencana alam di sejumlah wilayah. Meskipun efek musiman liburan akan mereda, harga tidak akan serta-merta turun tajam karena level harga dasar sudah terbentuk tinggi sejak akhir tahun lalu.
Tantangan ekonomi domestik dari sisi harga pangan ini beriringan dengan dinamika geopolitik global yang justru menunjukkan anomali mengejutkan.
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat memicu reaksi pasar yang tidak terduga karena indeks saham justru bergerak naik, sebuah fenomena yang dinilai "aneh namun positif" oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan harga BBM domestik tetap aman karena harga minyak dunia stabil di bawah US$ 63 per barel, mengingat pasokan global yang melimpah. Analis menilai konflik ini tidak mengguncang harga energi karena kontribusi produksi minyak Venezuela saat ini relatif kecil akibat sanksi ekonomi bertahun-tahun.
Di tengah ketenangan harga minyak dunia, kinerja perdagangan internasional Indonesia justru menghadapi tantangan serius dari sisi ekspor.
Surplus neraca perdagangan diprediksi akan tertekan sepanjang 2026 akibat pelemahan kinerja ekspor komoditas andalan seperti emas dan batu bara. Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita, menyoroti bahwa penerapan bea keluar serta gangguan produksi sawit akibat banjir di Sumatra menjadi pemicu utama penurunan volume pengiriman ke luar negeri. Sebaliknya, arus impor barang modal dan kendaraan listrik justru melonjak tajam seiring geliat manufaktur dan permintaan domestik yang menguat menjelang tenggat waktu insentif.
Dinamika ini menuntut kewaspadaan tinggi bagi pelaku bisnis ritel yang harus menghadapi potensi penurunan daya beli masyarakat akibat inflasi pangan yang persisten. Di sisi lain, investor pasar modal bisa sedikit bernapas lega melihat sentimen global yang kondusif, namun eksportir komoditas wajib melakukan efisiensi ketat menghadapi regulasi bea keluar dan penurunan permintaan dari mitra dagang utama seperti Tiongkok.
Pasar global dan domestik sedang mencari keseimbangan baru di mana risiko geopolitik tidak lagi menjadi satu-satunya penentu arah ekonomi, melainkan fundamental pasokan dan regulasi pemerintah yang kini memegang kendali utama stabilitas pasar.