Dalam perkembangan ekonomi terbaru, sorotan tertuju pada risiko ganda yang mengancam stabilitas: tekanan eksternal dari dinamika perdagangan global dan persoalan internal berupa kerugian dari tambang ilegal. Bencana di Sumatra serta potensi penerapan tarif oleh Donald Trump membayangi target ekonomi Indonesia 2026. Analis memperingatkan bahwa pembatalan kesepakatan tarif RI-AS dapat mengguncang stabilitas ekonomi dan nilai tukar Rupiah. Merespons ancaman tersebut, pelaku usaha mendorong penguatan pasar domestik. Pada saat yang sama, DPR mengungkap kerugian negara dari tambang ilegal yang ditaksir mencapai ribuan triliun rupiah. Di tengah tekanan tersebut, terdapat sinyal positif berupa proyeksi kenaikan penjualan ritel seiring membaiknya daya beli masyarakat.
Target ekonomi Indonesia 2026 dibayangi oleh dua risiko utama: dampak bencana alam di Sumatra dan ancaman penerapan tarif oleh mantan Presiden AS Donald Trump. Analis memperingatkan bahwa pembatalan kesepakatan tarif RI-AS berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi nasional dan menekan nilai tukar Rupiah.
Menanggapi ancaman dari ketidakpastian dagang RI-AS ini, pengusaha mendorong agar pasar domestik diperkuat sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi. Di tengah kekhawatiran eksternal, terdapat sinyal positif dari sisi konsumsi domestik: penjualan ritel diprediksi akan meningkat, karena membaiknya daya beli masyarakat.
Namun, stabilitas fiskal tetap dipertanyakan oleh masalah internal. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengungkapkan bahwa aktivitas tambang ilegal menyebabkan kerugian negara yang ditaksir mencapai ribuan triliun rupiah. Angka ini menunjukkan kebocoran fiskal yang sangat besar, menuntut penegakan hukum untuk mengamankan penerimaan negara.
Berita hangat terkini memiliki implikasi luas terhadap stabilitas moneter, strategi perdagangan, dan integritas fiskal. Potensi pembatalan kesepakatan RI-AS dan ancaman tarif Trump berimplikasi pada peningkatan volatilitas Rupiah dan perlunya diversifikasi pasar ekspor. Kekhawatiran pengusaha yang mendorong penguatan pasar domestik berimplikasi pada pentingnya kebijakan yang pro-konsumsi dan industri dalam negeri. Sementara itu, kerugian ribuan triliun dari tambang ilegal yang diungkap DPR mengimplikasikan perlunya penegakan hukum yang masif dan perbaikan tata kelola sektor sumber daya alam untuk menambal kebocoran penerimaan. Di tengah risiko, prediksi kenaikan penjualan ritel berimplikasi positif terhadap optimisme sektor konsumsi dan pertumbuhan PDB.
Pada umumnya, ekonomi Indonesia berada di bawah tekanan ganda: risiko eksternal dari ketidakpastian perdagangan AS dan risiko domestik dari kerugian tambang ilegal yang masif. Pemerintah dituntut untuk memitigasi risiko Rupiah dari potensi pembatalan kesepakatan dagang dan menambal kebocoran fiskal dari tambang ilegal. Strategi penguatan pasar domestik yang didorong pengusaha menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan yang saat ini didukung oleh membaiknya daya beli dan peningkatan penjualan ritel.