Bagi perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja asing (ekspatriat) sebagai Pegawai Tetap, penghitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 memiliki kompleksitas tersendiri dibandingkan pegawai lokal. Perbedaan utama terletak pada periode Kewajiban Pajak Subjektif. Jika pegawai lokal umumnya memiliki kewajiban pajak penuh satu tahun (kecuali lahir/meninggal), ekspatriat sering kali memulai atau mengakhiri kewajiban pajak mereka di tengah tahun kalender saat mereka datang ke atau meninggalkan Indonesia untuk selamanya.
Kunci utama penghitungan pajak ekspatriat dalam kondisi ini adalah metode "Disetahunkan".
1. Skenario Kedatangan: Masuk di Tengah Tahun
Ketika seorang ekspatriat mulai bekerja di Indonesia (misalnya bulan September) dan berniat tinggal lebih dari 183 hari, ia menjadi Subjek Pajak Dalam Negeri (SPDN).
- Fase Bulanan (TER): Sama seperti pegawai lokal, untuk bulan-bulan awal bekerja (selain masa pajak terakhir/Desember), pemotongan pajak menggunakan Tarif Efektif Rata-Rata (TER) dikalikan Penghasilan Bruto bulan tersebut.
- Masa Pajak Terakhir (Desember): Di sinilah letak perbedaannya. Penghasilan Neto yang diterima selama ia bekerja (misal 4 bulan) harus disetahunkan terlebih dahulu untuk mendapatkan basis pajak yang adil sesuai tarif progresif.
Contoh Kasus (Tuan C - Masuk September):
Tuan C (K/0) mulai bekerja 1 September 2024. Gaji Rp15.500.000/bulan.
- Jan-Agustus: Tidak ada pemotongan.
- September-November: Dipotong menggunakan TER Kategori A (misal 7%).
- Desember (Hitung Ulang):
- Hitung Penghasilan Neto setahun (dari penghasilan 4 bulan).
- Disetahunkan: (Penghasilan Neto x 12/4).
- Hitung PPh Terutang atas nilai disetahunkan tersebut menggunakan Tarif Pasal 17.
- Prorata: Hasil pajak di atas dikalikan kembali dengan proporsi masa kerja (4/12) untuk mendapatkan pajak terutang sebenarnya tahun 2024.
- Kurangi dengan pajak yang sudah dipotong (Sept-Nov) untuk mendapatkan PPh Pasal 21 Kurang/Lebih Bayar di Desember.
2. Skenario Kepergian: Meninggalkan Indonesia Selamanya
Skenario ini terjadi ketika ekspatriat resign dan kembali ke negara asalnya (EPO/Exit Permit Only) di tengah tahun, misalnya bulan Agustus. Ini menyebabkan kewajiban pajak subjektifnya di Indonesia berakhir.
- Mekanisme: Penghitungan pada bulan terakhir bekerja (Masa Pajak Terakhir) juga menggunakan metode penghasilan neto yang disetahunkan.
Contoh Kasus (Tuan E - Keluar Agustus):
Tuan E (TK/0) bekerja sejak lama, namun resign dan pulang ke negaranya pada 1 September 2024. Gaji Rp17.500.000/bulan.
- Januari-Juli: Dipotong menggunakan TER bulanan.
- Agustus (Masa Terakhir):
- Hitung Penghasilan Neto riil (Jan-Agustus).
- Disetahunkan: (Penghasilan Neto Jan-Agst x 12/8).
- Kurangi PTKP setahun penuh.
- Hitung PPh Terutang (Tarif Pasal 17) atas angka disetahunkan.
- Prorata: Hasil pajak dikalikan (8/12).
- Hasil: Biasanya, perhitungan ini akan menghasilkan posisi Lebih Bayar karena pemotongan TER bulan-bulan sebelumnya mengasumsikan penghasilan penuh setahun, sedangkan realisasinya pegawai hanya bekerja sebagian tahun. Perusahaan wajib mengembalikan kelebihan bayar tersebut kepada pegawai.
3. Penghasilan dalam Mata Uang Asing
Banyak ekspatriat menerima gaji dalam mata uang asing (misal USD). Untuk penghitungan PPh 21, nilai tersebut harus dikonversi ke Rupiah menggunakan Kurs Menteri Keuangan yang berlaku pada saat pembayaran penghasilan atau pada saat terutangnya penghasilan (mana yang lebih dahulu terjadi).
Kesimpulan
Penghitungan pajak ekspatriat menuntut ketelitian ekstra pada "Masa Pajak Terakhir" (bisa Desember, atau bulan saat mereka pulang ke negaranya). Prinsip "Disetahunkan" memastikan bahwa tarif progresif diterapkan secara adil terhadap estimasi penghasilan tahunan mereka, sebelum diprorata kembali sesuai masa kerja aktual di Indonesia.
Referensi Peraturan:
- Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2023.
- Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168 Tahun 2023 (Lampiran Bagian Kedua poin I.2.1.2 dan I.2.2.3).
- Buku Cermat Pemotongan PPh Pasal 21/26 (DJP, 2024).