Dinamika perpajakan nasional pada pertengahan Desember ini berfokus pada upaya otoritas fiskal dalam menyeimbangkan antara penyelesaian tunggakan kewajiban negara kepada wajib pajak dan pengejaran target penerimaan yang masih mengalami selisih signifikan. Pemerintah tengah mengandalkan kesiapan sistem administrasi baru untuk meningkatkan kepatuhan sekaligus memperketat pengawasan di lapangan guna memitigasi kebocoran pendapatan negara. Tulisan ini akan mengulas tantangan realisasi pajak terhadap outlook tahunan, kesiapan infrastruktur digital perpajakan, serta langkah penegakan hukum di sektor cukai dan pajak orang pribadi.
Kementerian Keuangan menunjukkan data penerimaan pajak yang masih kekurangan sebesar Rp442,5 triliun dari angka outlook tahunan hingga akhir November 2025. Kesenjangan yang besar ini menjadi beban berat bagi Direktorat Jenderal Pajak untuk mengejar sisa target penerimaan hanya dalam waktu satu bulan terakhir tahun anggaran. Di tengah upaya pengejaran target tersebut, Direktur Jenderal Pajak menyatakan bahwa tahap uji coba sistem Coretax telah rampung sepenuhnya guna melayani pelaporan SPT Tahunan 2025 dengan integrasi data yang lebih akurat dan transparan.
Sementara otoritas menyiapkan sistem baru, para pelaku usaha sedang menagih pengembalian kelebihan pembayaran pajak atau restitusi yang nilainya telah mencapai Rp351 triliun. Tingginya angka restitusi tersebut mencerminkan adanya tekanan likuiditas bagi korporasi yang sangat bergantung pada kecepatan proses pengembalian dana dari kas negara. Untuk mengimbangi kebutuhan arus kas tersebut, otoritas pajak semakin agresif melakukan pemanggilan klarifikasi terhadap sejumlah individu berkekayaan tinggi (crazy rich) guna memastikan kontribusi pajak dari sektor orang pribadi kelas atas tetap berada pada level optimal.
Selain fokus pada pajak penghasilan, Menteri Keuangan menegaskan bahwa integritas petugas Bea Cukai kini semakin kuat sehingga praktik suap menjadi sulit dilakukan oleh pihak mana pun. Hal ini dibuktikan oleh instansi terkait melalui lonjakan angka penindakan rokok ilegal di berbagai wilayah Indonesia selama periode tahun berjalan. Upaya pengamanan cukai yang tegas ini berkontribusi penting dalam meminimalisir kerugian negara sekaligus memperkuat pengawasan terhadap barang kena cukai ilegal di tengah upaya pemerintah menambal kekurangan penerimaan negara secara keseluruhan.
Korelasi antara piutang restitusi dan pengejaran target pajak ini membawa implikasi langsung terhadap manajemen kas negara dan kepercayaan dunia usaha. Kesenjangan target sebesar Rp442,5 triliun berimplikasi pada meningkatnya intensitas penagihan aktif oleh petugas pajak di seluruh wilayah Indonesia pada sisa bulan Desember. Di sisi lain, restitusi jumbo senilai Rp351 triliun berimplikasi pada tekanan tambahan bagi APBN, karena pemerintah harus mengatur arus kas agar pembayaran kembali pajak tersebut tidak mengganggu pembiayaan program prioritas lainnya. Sementara itu, kesiapan sistem Coretax berimplikasi pada potensi kemudahan administrasi di masa depan, namun agresivitas pemanggilan WP individu mengimplikasikan perlunya transparansi lebih lanjut agar tidak menimbulkan kekhawatiran berlebih yang dapat menghambat investasi domestik.
Secara garis besar, pemerintah saat ini tengah berupaya menuntaskan transisi besar menuju sistem perpajakan digital di tengah himpitan target fiskal yang cukup menantang. Komitmen terhadap integritas di sektor cukai dan keberanian dalam melakukan pengawasan wajib pajak besar menunjukkan keseriusan dalam menjaga marwah institusi keuangan. Keberhasilan dalam menjembatani kebutuhan restitusi pengusaha dan pencapaian target penerimaan di penghujung tahun akan menjadi indikator utama kesehatan fundamental ekonomi nasional sebelum memasuki siklus pelaporan pajak tahun depan.