Lanskap ekonomi nasional pada hari ini berfokus pada langkah strategis Bank Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas moneter dan dorongan pertumbuhan ekonomi. Di tengah fluktuasi nilai tukar dan tekanan opini dari lembaga internasional, otoritas moneter tetap memprioritaskan konsistensi kebijakan untuk memberikan kepastian bagi pasar keuangan. Selain itu, munculnya proyeksi optimis untuk beberapa tahun ke depan menjadi sentimen positif yang mewarnai dinamika fiskal dan moneter dalam negeri. Tulisan kali ini akan mengulas keputusan suku bunga acuan, strategi ekspansi likuiditas, serta tanggapan atas rekomendasi kebijakan pajak dari pihak eksternal.
Bank Indonesia (BI) telah memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 4,75% guna memastikan inflasi tetap terkendali dan stabilitas makroekonomi terjaga. Sejalan dengan kebijakan tersebut, Bank Indonesia menegaskan bahwa nilai tukar Rupiah tetap berada dalam kondisi terkendali meskipun mata uang tersebut sempat mengalami tekanan pelemahan terhadap dolar AS. Otoritas moneter terus melakukan intervensi yang diperlukan di pasar valuta asing agar volatilitas nilai tukar tetap berada dalam batas yang wajar bagi kepastian pasar.
Guna mendukung akselerasi pertumbuhan, Bank Indonesia sedang mendorong ekonomi nasional melalui strategi ekspansi likuiditas yang agresif di sektor perbankan. BI menargetkan uang primer tumbuh dua digit untuk memastikan ketersediaan dana yang cukup bagi perbankan dalam menyalurkan kredit ke sektor riil secara lebih luas. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat daya tahan ekonomi domestik, terutama setelah Bank Dunia merilis proyeksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5% pada tahun 2026 dan meningkat menjadi 5,2% pada tahun 2027 mendatang.
Meskipun lembaga internasional menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental Indonesia, sejumlah pengamat ekonomi mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam mengadopsi rekomendasi Bank Dunia terkait kebijakan pajak. Para ahli menilai bahwa setiap penyesuaian tarif pajak harus mempertimbangkan daya beli masyarakat domestik agar kebijakan tersebut tidak menjadi bumerang bagi momentum pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Sinergi antara kebijakan moneter yang stabil dan kebijakan fiskal yang empati terhadap rakyat menjadi kunci keberlanjutan target pertumbuhan jangka panjang tersebut.
Berbagai keputusan moneter dan proyeksi internasional ini membawa implikasi besar terhadap arus modal dan strategi fiskal nasional. Pertahanan BI Rate di level 4,75% berimplikasi pada terjaganya daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing, sehingga tekanan terhadap cadangan devisa dapat diminimalisir. Sementara itu, target pertumbuhan uang primer dua digit berimplikasi pada peningkatan kapasitas pinjaman bank, yang jika terserap dengan baik, akan mempercepat ekspansi usaha di berbagai sektor. Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan jangka panjang dari Bank Dunia berimplikasi pada meningkatnya minat investasi asing (FDI) ke Indonesia, namun peringatan pengamat mengenai pajak mengimplikasikan adanya risiko resistensi sosial jika pemerintah terburu-buru menaikkan beban pajak tanpa mitigasi yang tepat.
Secara keseluruhan, harmonisasi antara kebijakan moneter yang stabil dan perencanaan fiskal yang hati-hati menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini. Ketegasan Bank Indonesia dalam mengelola Rupiah dan likuiditas memberikan rasa aman bagi pelaku pasar, sementara proyeksi positif dari Bank Dunia memberikan peta jalan yang optimis untuk beberapa tahun ke depan. Meskipun rekomendasi global tetap menjadi referensi penting, kedaulatan dalam menentukan arah kebijakan pajak yang pro-rakyat akan menentukan keberlanjutan stabilitas ekonomi nasional di masa transisi ini.