Lanskap ekonomi nasional pada pertengahan Desember ini menunjukkan perpaduan antara optimisme pertumbuhan dan kehati-hatian kebijakan moneter dalam menghadapi fluktuasi pasar global. Pemerintah tetap percaya diri terhadap fundamental ekonomi domestik, sementara otoritas moneter berfokus pada stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal. Di sisi lain, potensi lonjakan konsumsi masyarakat menjelang akhir tahun menjadi mesin penggerak yang diharapkan mampu menyokong target makroekonomi. Rangkuman ini akan mengulas proyeksi pertumbuhan ekonomi, kebijakan suku bunga Bank Indonesia, serta keamanan posisi utang luar negeri Indonesia.
Menko menyatakan optimistis bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% pada tahun 2025 dapat terealisasi. Keyakinan tersebut didasarkan pada ketahanan ekonomi domestik serta berbagai strategi penguatan di sektor industri dan ekspor guna menjaga momentum pertumbuhan nasional secara berkelanjutan.
Guna mendukung stabilitas makroekonomi di tengah dinamika pasar, Bank Indonesia (BI) diprediksi akan tetap mempertahankan BI Rate pada level 4,75% dalam rapat kebijakan Desember 2025. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kondisi nilai tukar Rupiah yang masih menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar AS. Di saat yang sama, sejumlah ekonom memberikan penilaian bahwa prospek utang luar negeri (ULN) Indonesia berada dalam kondisi yang masih aman karena pengelolaan yang disiplin dan rasio utang terhadap PDB yang tetap terjaga.
Sementara itu, sektor konsumsi domestik diprediksi akan memberikan kontribusi besar melalui estimasi perputaran uang selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 yang diperkirakan mencapai Rp107,56 triliun. Lonjakan transaksi tersebut didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat dan aktivitas belanja musiman di seluruh wilayah Indonesia. Fenomena ini diharapkan mampu memperkuat likuiditas ekonomi dan menyokong pencapaian target pertumbuhan di akhir tahun.
Berbagai perkembangan ekonomi ini memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas pasar keuangan dan daya beli masyarakat. Keputusan BI mempertahankan suku bunga di level 4,75% berimplikasi pada terjaganya selisih imbal hasil (yield) untuk menahan arus modal keluar, meskipun hal ini juga berarti suku bunga kredit perbankan akan tetap tinggi bagi pelaku usaha. Sementara itu, proyeksi perputaran uang yang masif pada momen Nataru berimplikasi pada stimulus jangka pendek bagi pertumbuhan PDB kuartal keempat, namun juga mengimplikasikan risiko tekanan inflasi musiman pada harga barang dan jasa. Di sisi lain, opini positif ekonom terhadap utang luar negeri berimplikasi pada terjaganya kepercayaan lembaga pemeringkat internasional terhadap kredibilitas fiskal Indonesia.
Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah ketidakpastian nilai tukar dan transisi tahun anggaran. Sinergi antara kebijakan moneter BI yang stabil dan optimisme pemerintah dalam mengejar target pertumbuhan 5,2% menciptakan fondasi yang seimbang bagi pelaku pasar. Dengan dukungan konsumsi domestik yang kuat selama periode libur akhir tahun, Indonesia memiliki modalitas yang cukup untuk menutup tahun 2025 dengan tren positif sekaligus mempersiapkan transisi ekonomi yang stabil menuju tahun 2026.