Harga emas mencatat rekor tertinggi yang mendongkrak saham emiten tambang di tengah optimisme pertumbuhan ekonomi nasional pada akhir 2025. Pemerintah kini menargetkan modernisasi industri melalui impor mesin demi mencapai kontribusi manufaktur sebesar 20,56% terhadap PDB pada 2029. Langkah strategis ini diharapkan memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global yang terus berlanjut.
Harga emas dunia menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada Desember 2025 dan memberikan imbal hasil tahunan yang fantastis sebesar 67%. Tren positif ini langsung memacu kenaikan harga saham emiten emas seperti ANTM dan HRTA karena para investor agresif memburu aset lindung nilai utama. Kondisi pasar global yang tidak menentu menjadikan logam mulia sebagai primadona pilihan bagi banyak pemangku kepentingan untuk mengamankan kekayaan mereka.
Kilauan emas yang cemerlang ini sejalan dengan klaim pemulihan ekonomi nasional yang menunjukkan angka pertumbuhan cukup menggembirakan bagi publik.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan bahwa ekonomi Indonesia berhasil tumbuh sebesar 5,45% pada kuartal IV/2025. Angka tersebut melampaui capaian kuartal-kuartal sebelumnya meski terdapat tantangan pada penurunan sektor konsumsi dan pelemahan kinerja ekspor. Pemerintah terus memantau dinamika data terbaru secara saksama guna memastikan tren penguatan ekonomi ini tetap berkelanjutan di masa depan.
Pertumbuhan ekonomi yang stabil ini memerlukan dukungan infrastruktur industri yang lebih modern agar daya saing nasional tetap terjaga di kancah global.
Indonesia mencatatkan lonjakan signifikan pada impor mesin dari China sebagai langkah nyata dalam upaya modernisasi dan robotisasi industri nasional. Meskipun impor ini memicu kekhawatiran terhadap tekanan neraca dagang, alat-alat canggih tersebut sangat krusial untuk meningkatkan produktivitas pabrik lokal secara efisien. Transformasi teknologi ini menjadi kunci utama dalam mengefisiensikan skala produksi massal di berbagai sektor manufaktur unggulan.
Penggunaan teknologi terbaru ini diharapkan mampu mewujudkan ambisi besar pemerintah dalam memperkuat peran industri pengolahan terhadap total ekonomi nasional.
Presiden Prabowo Subianto menetapkan target agresif untuk mengembalikan kontribusi industri manufaktur hingga mencapai 20,56% terhadap PDB pada tahun 2029. Kementerian Perindustrian memproyeksikan lompatan pertumbuhan sektor ini dari 5,50% pada 2025 menjadi 8,14% dalam kurun waktu empat tahun ke depan. Fokus utama pemerintah adalah mengatasi hambatan deindustrialisasi agar industri dalam negeri mampu bersaing secara kuat di pasar internasional.
Lonjakan harga emas dan target manufaktur yang sangat berani ini membuka peluang investasi besar bagi pelaku bisnis untuk segera melakukan ekspansi kapasitas produksi dan modernisasi teknologi. Optimisme ekonomi yang didorong oleh penguatan sektor komoditas serta modernisasi industri harus dibarengi dengan kebijakan fiskal yang tepat agar target kontribusi PDB 2029 tercapai secara optimal melalui sinergi antara pemerintah dan swasta.