Situasi ekonomi global dan domestik pada awal Desember 2025 menunjukkan sejumlah tantangan yang patut dicermati, terutama terkait potensi kenaikan suku bunga global yang dapat meningkatkan beban pembiayaan utang. Meski inflasi November mulai melandai, kinerja ekspor kembali mengalami pelemahan. Di sisi moneter, Bank Indonesia (BI) merespons perkembangan digitalisasi global dengan melakukan uji coba Rupiah Digital sebagai bagian dari transformasi sistem keuangan nasional. Narasi ini menggambarkan tekanan eksternal, perubahan dinamika perdagangan, dan strategi inovasi BI dalam menghadapi lanskap ekonomi baru.
Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) diingatkan untuk bersiaga dalam menghadapi tekanan suku bunga global yang diprediksi akan meningkat pada periode 2026-2027. Kesiagaan ini penting karena tekanan suku bunga global yang tinggi berpotensi meningkatkan risiko terhadap biaya utang Indonesia, yang bisa membengkak secara signifikan dan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Di tengah ancaman eksternal tersebut, kinerja ekspor Indonesia tercatat melemah pada Oktober 2025. Pelemahan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek perdagangan ke depan, yang membutuhkan strategi diversifikasi untuk menjaga surplus neraca perdagangan. Sementara itu, inflasi pada November 2025 tercatat melandai dibandingkan bulan sebelumnya, namun emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar pada inflasi bulan tersebut, mengindikasikan adanya perubahan pola konsumsi dan kekhawatiran pasar yang mendorong safe haven buying.
Sebagai respons terhadap perkembangan teknologi keuangan, Bank Indonesia (BI) tengah melakukan eksperimen penting terkait penerbitan Rupiah Digital. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat kedaulatan Rupiah di era digital, sekaligus merupakan respons terhadap perkembangan teknologi keuangan global.
Perkembangan hari ini memiliki implikasi langsung pada kebijakan moneter, fiskal, dan perdagangan. Ancaman suku bunga global pada 2026-2027 menciptakan urgensi bagi Pemerintah dan BI untuk mengelola utang dan risiko nilai tukar secara hati-hati. Peningkatan biaya utang berpotensi menggeser alokasi APBN dari belanja produktif ke pembayaran bunga. Sementara pelemahan ekspor menandakan tantangan dalam menjaga engine pertumbuhan, yang membutuhkan stimulus non-moneter. Di sisi lain, eksperimen Rupiah Digital menjanjikan modernisasi sistem pembayaran dan menjaga efisiensi transaksi. Terakhir, meskipun inflasi melandai, kontribusi besar emas perhiasan mengisyaratkan adanya ketidakpastian yang mendorong masyarakat berinvestasi pada aset lindung nilai (safe haven).
Secara keseluruhan, otoritas ekonomi Indonesia dihadapkan pada tantangan ganda: ancaman eksternal dari tekanan suku bunga global yang dapat membengkakkan biaya utang, dan tantangan domestik berupa pelemahan kinerja ekspor. Pemerintah dan BI wajib memperketat koordinasi untuk memastikan stabilitas fiskal dan moneter sambil terus menjaga momentum perdagangan. Langkah proaktif BI melalui eksperimen Rupiah Digital menunjukkan kesiapan dalam beradaptasi dengan era digital untuk memperkuat kedaulatan Rupiah di tengah ketidakpastian.