Situasi ekonomi Indonesia pada 5 Desember 2025 menunjukkan fokus pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam mempercepat pertumbuhan, menindak praktik ilegal, dan memperkuat ketahanan ekonomi. Menteri Keuangan Purbaya membentuk Satuan Tugas (Satgas) Debottlenecking untuk memperlancar investasi, sementara Lembaga National Single Window (LNSW) menyiapkan langkah tegas terhadap impor ilegal melalui integrasi data lintas negara. Di sisi moneter, BI mulai memaparkan strategi atau “formula super” untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang. Namun, perhatian publik juga tertuju pada lambatnya realisasi Dana Desa yang terhambat situasi bencana.
Menteri Keuangan siap membentuk Satgas Debottlenecking yang bertujuan untuk mempercepat proses investasi dan mengatasi hambatan birokrasi di berbagai proyek strategis, menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sejalan dengan itu, belanja negara dinilai harus dipercepat di awal tahun 2026 agar efektif mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan penerimaan pajak, di mana akselerasi belanja ini penting untuk memasok likuiditas dan menstimulus permintaan domestik.
Dalam upaya memperkuat ketahanan ekonomi, BI membocorkan 5 formula super yang dirancang untuk membuat ekonomi Indonesia kebal krisis pada tahun 2026. Selain itu, LNSW akan menindak tegas impor ilegal melalui pertukaran data lintas negara, yang bertujuan untuk meningkatkan integritas perdagangan, mencegah penyelundupan, dan mengamankan penerimaan negara dari sektor kepabeanan.
Namun, implementasi kebijakan fiskal dihadapkan pada kendala di lapangan. Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) menyentil Menkeu Purbaya karena Dana Desa belum cair secara optimal di tengah situasi bencana. Meskipun Purbaya memberikan komitmen untuk program Koperasi Desa (Kopdes), keterlambatan pencairan dana desa menimbulkan kendala di tingkat akar rumput dan menunjukkan adanya masalah birokrasi yang perlu segera diatasi.
Beberapa peristiwa hari ini memiliki implikasi krusial pada tiga pilar kebijakan: investasi, stabilitas, dan fiskal. Pembentukan Satgas Debottlenecking oleh Purbaya menjanjikan efisiensi dalam perizinan dan realisasi investasi, yang merupakan kunci engine pertumbuhan. Langkah LNSW melawan impor ilegal memperkuat integritas perdagangan dan melindungi industri domestik dari persaingan curang. Di sisi lain, perlunya percepatan belanja negara di awal 2026 menunjukkan adanya urgensi untuk menjaga momentum ekonomi dan mencapai target penerimaan. Namun, kritik APDESI menyoroti perlunya perbaikan dalam mekanisme pencairan Dana Desa agar kebijakan fiskal dapat segera diakses oleh masyarakat yang terdampak bencana. Terakhir, formula kekebalan krisis BI menegaskan komitmen otoritas moneter untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global.
Secara keseluruhan, otoritas ekonomi Indonesia sedang merancang langkah-langkah offensive (serangan) dan defensive (pertahanan) menjelang 2026. Pemerintah berfokus pada percepatan investasi melalui Satgas Debottlenecking dan pengamanan perdagangan melalui LNSW, serta pengebutan belanja negara di awal tahun. Sementara itu, BI memperkenalkan formula stabilitas untuk membuat ekonomi kebal krisis. Meskipun demikian, tantangan birokrasi, seperti lambatnya pencairan Dana Desa, tetap menjadi bottleneck yang harus segera diselesaikan agar manfaat kebijakan fiskal dapat dirasakan merata dan cepat.