Menjelang penutup tahun, perekonomian nasional memperlihatkan beragam tren yang wajib dicermati oleh para pengambil keputusan dan pelaku pasar. Rangkuman ini bertujuan memberikan tinjauan komprehensif atas peluang besar di sektor ekspor berkelanjutan, tantangan domestik dalam distribusi subsidi dan pasar tenaga kerja, serta isu krusial terkait tekanan pada kondisi fiskal pemerintah.
Indonesia memiliki peluang signifikan menjadi pemain utama dalam pasar tuna berkelanjutan global. Pasar internasional terus meningkatkan permintaan produk perikanan yang telah terverifikasi secara berkelanjutan, sehingga kekayaan sumber daya laut Indonesia menjadi potensi ekspor yang besar. Pelaku usaha perikanan wajib mengadopsi praktik penangkapan ikan yang bertanggung jawab dan bersertifikat, sementara pemerintah perlu memperkuat regulasi dan infrastruktur pelabuhan untuk mendukung daya saing ekspor; kesempatan ini menjanjikan peningkatan devisa dan kesejahteraan nelayan.
Namun, di sektor pangan domestik, program pupuk bersubsidi pemerintah justru mengalami hambatan. Masalah akurasi data petani yang tidak valid menyebabkan penyerapan alokasi subsidi menurun dan distribusi pupuk tidak tepat sasaran, sehingga banyak petani yang berhak kesulitan mendapatkan akses. Isu data ini mengancam stabilitas produksi pangan nasional. Pemerintah harus segera memvalidasi dan memutakhirkan data petani secara menyeluruh. Kegagalan mengatasi masalah ini akan meningkatkan biaya produksi petani dan berpotensi memicu inflasi harga pangan.
Di sisi permintaan domestik, belanja masyarakat, yang merupakan mesin utama pertumbuhan ekonomi, menunjukkan kecenderungan stagnan setelah mengalami rebound pasca-pandemi. Ekonom menyebut fase ini sebagai normalisasi konsumsi, ditandai dengan perlambatan pertumbuhan penjualan di sektor ritel. Kondisi ini memaksa perusahaan di sektor konsumer dan ritel merevisi ekspektasi pertumbuhan penjualan dan fokus pada efisiensi operasional. Investor perlu mewaspadai sektor yang sangat bergantung pada daya beli domestik, karena booming konsumsi kemungkinan sudah berakhir.
Sementara itu, pasar kerja menghadapi ketidakseimbangan besar. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mencatat bahwa satu posisi pekerjaan kini harus diperebutkan oleh rata-rata 16 pencari kerja. Angka ini mencerminkan persaingan yang sangat ketat dan adanya mismatch antara kualifikasi pelamar dan kebutuhan industri. Kesenjangan ini menuntut dunia usaha dan pemerintah bekerja sama memperkuat program pendidikan dan pelatihan vokasi yang sesuai dengan permintaan pasar kerja, guna mengurangi tingkat pengangguran terdidik.
Terakhir, kondisi arus kas pemerintah pada akhir tahun 2025 diproyeksikan mengalami tekanan atau "seret". Hal ini disebabkan oleh penyerapan belanja yang tinggi di penghujung tahun, sementara penerimaan negara dari pajak dan non-pajak tidak selalu mengikuti pola penyerapan tersebut, menciptakan defisit kas jangka pendek. Tekanan arus kas mengharuskan Kementerian Keuangan mengelola likuiditas secara hati-hati, termasuk melalui penerbitan instrumen pembiayaan jangka pendek. Bagi pasar, kondisi ini berpotensi memengaruhi suku bunga jangka pendek dan sentimen investor terhadap kesehatan fiskal negara.
Keseluruhan berita ini menegaskan perlunya keseimbangan antara mengoptimalkan peluang, seperti sektor tuna berkelanjutan, dan mengatasi tantangan domestik, seperti data petani dan ketatnya pasar kerja. Selain itu, kewaspadaan fiskal menjadi penting menjelang akhir tahun anggaran. Pemahaman yang akurat terhadap dinamika sektor riil dan regulasi fiskal akan menentukan keberhasilan strategi bisnis dan kebijakan ekonomi ke depan.