Ringkasan:
Ekonomi Indonesia sukses mencatat pertumbuhan 5,11 persen sepanjang 2025, didorong oleh konsumsi rumah tangga yang solid dan rekor kinerja manufaktur pascapandemi. Demi menembus target pertumbuhan 6 persen di 2026, pemerintah meluncurkan "8 Jurus" investasi senilai Rp2.175 triliun serta strategi fiskal cerdas tanpa pajak baru. Kolaborasi lintas kementerian menjadi kunci utama untuk menjaga tren positif ini tetap menyala.
Badan Pusat Statistik (BPS) membawa angin segar dengan laporan pertumbuhan ekonomi nasional yang tembus 5,11 persen pada 2025, melampaui capaian tahun sebelumnya. Angka ini ditopang oleh kebangkitan fenomenal sektor manufaktur yang tumbuh 5,15 persen—tertinggi sejak pandemi Covid-19—serta konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB). Kinerja impresif di Kuartal IV 2025 yang mencapai 5,39 persen menjadi sinyal kuat bahwa mesin ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi prima. Momentum makroekonomi yang solid ini menjadi landasan pacu bagi pemerintah untuk memasang target-target yang jauh lebih ambisius di tahun 2026.
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, langsung tancap gas dengan menyiapkan "8 Jurus" prioritas demi mengejar target investasi jumbo Rp2.175,2 triliun. Jurus pertama dan yang paling krusial adalah perbaikan total sistem perizinan Online Single Submission (OSS) yang diakui masih lambat, agar menjadi ujung tombak yang cepat dan pasti. Jurus kedua hingga keempat berfokus pada strategi hulu-hilir, yakni penyusunan rencana aksi Hilirisasi Investasi Strategis (HIS), implementasi peta jalan HIS, serta penyiapan Investment Project Ready to Offer (IPRO) untuk mempromosikan potensi unggulan daerah. Langkah ini dilanjutkan dengan jurus kelima, yaitu pemasaran investasi berbasis kewilayahan yang lebih terarah.
Tak berhenti di situ, Rosan juga menyiapkan jurus keenam berupa fasilitasi penyelesaian kendala realisasi investasi alias debottlenecking serta pengawasan berbasis risiko. Jurus ketujuh dan kedelapan mencakup perluasan kerja sama internasional dengan mitra strategis serta peningkatan iklim investasi agar Indonesia semakin kompetitif di mata dunia. Rosan meyakini kombinasi delapan langkah taktis ini akan menjadi daya dorong utama untuk membawa pertumbuhan ekonomi nasional melesat di atas 6 persen. Ambisi besar menarik modal ribuan triliun ini tentu harus didukung oleh manajemen kas negara yang cerdik dan hati-hati.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyambut tantangan tersebut dengan strategi fiskal yang tidak membebani rakyat, terbukti dari realisasi penerimaan negara Januari 2026 yang tembus Rp172,7 triliun. Penerimaan pajak bahkan melonjak 30,8 persen berkat pemanfaatan teknologi canggih untuk menutup celah kebocoran dan penurunan restitusi, tanpa perlu menaikkan tarif atau membuat pajak baru. Purbaya optimis ekonomi bisa tumbuh 6 persen karena kini pemerintah mengaktifkan dua mesin pertumbuhan sekaligus—swasta dan belanja pemerintah—berbeda dengan dekade sebelumnya yang dinilai pincang. Keyakinan ini sejalan dengan proyeksi Gubernur BI Perry Warjiyo yang melihat ekonomi bisa melaju hingga 5,7 persen tahun ini.
Para pelaku bisnis kini mendapatkan peta jalan yang jelas: perbaikan sistem OSS menjanjikan kemudahan birokrasi, sementara kebijakan fiskal yang "ramah" memberikan ruang napas untuk ekspansi. Fokus pemerintah pada hilirisasi dan proyek siap tawar (IPRO) membuka peluang emas bagi investor lokal maupun asing untuk masuk ke sektor-sektor bernilai tambah tinggi. Dengan konsumsi domestik yang terjaga kuat, pasar Indonesia tetap menjadi magnet yang sangat menarik bagi dunia usaha.
Indonesia kini berdiri di ambang lompatan ekonomi besar, didukung oleh sinergi kuat antara otoritas fiskal, moneter, dan investasi. Keberhasilan "8 Jurus" Rosan dan strategi "dua mesin" Purbaya akan sangat bergantung pada eksekusi cepat dan kolaborasi nyata di lapangan. Saatnya dunia usaha bersiap dan mengambil posisi strategis untuk menunggangi gelombang pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi ini.