Infrastruktur Sumatra telah pulih total pascabencana seiring lonjakan realisasi investasi domestik yang menembus ribuan triliun rupiah pada tahun 2025. Pemerintah mempercepat pembangunan puluhan ribu unit Koperasi Merah Putih sebagai motor ekonomi kerakyatan baru. Namun, risiko pengangguran muda menjadi ancaman ekonomi terbesar yang membayangi Indonesia dalam dua tahun mendatang.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sukses memulihkan seluruh jalur logistik utama di wilayah Sumatra yang sempat lumpuh akibat bencana alam. Menteri PU Dody Hanggodo memastikan konektivitas jalan dan jembatan nasional di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kini telah tersambung kembali guna menjamin kelancaran distribusi pangan dan energi. Ribuan alat berat dikerahkan secara masif untuk membuka akses hingga ke pelosok desa sekaligus menyiapkan hunian sementara yang layak bagi para pengungsi. Pemulihan infrastruktur vital ini menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mempercepat program pemerataan ekonomi hingga ke level pedesaan yang lebih dalam.
Pemerintah kini tengah mengebut pembangunan 26.000 unit Koperasi Desa Merah Putih sebagai ujung tombak transformasi ekonomi kerakyatan di seluruh penjuru negeri. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa puluhan ribu titik lahan telah disiapkan untuk mengubah wajah koperasi menjadi entitas bisnis modern yang produktif, bukan sekadar simpan pinjam. Program strategis ini melibatkan ribuan asisten bisnis profesional guna memastikan koperasi mampu mengelola sektor ritel, logistik, hingga menjadi penampung produk lokal yang kompetitif. Geliat ekonomi di tingkat akar rumput ini sejalan dengan pencapaian gemilang realisasi investasi nasional yang baru saja mencatatkan rekor baru.
Kementerian Investasi melaporkan realisasi penanaman modal sepanjang tahun 2025 berhasil menembus angka fantastis Rp1.931,2 triliun atau melampaui target yang ditetapkan. Lonjakan kinerja ini didominasi oleh kekuatan investor dalam negeri (PMDN) yang menyumbang lebih dari seribu triliun rupiah berkat stabilitas iklim usaha yang kondusif. Menteri Rosan Roeslani sangat optimistis kehadiran Badan Pengelola Investasi Danantara akan semakin mendongkrak arus modal masuk pada sektor strategis seperti kesehatan dan hilirisasi di tahun 2026. Walaupun arus modal deras mengalir, tantangan besar terkait penyerapan tenaga kerja masih menjadi pekerjaan rumah serius yang harus segera diselesaikan.
Laporan World Economic Forum (WEF) menempatkan pengangguran sebagai risiko ekonomi terbesar yang siap menghantam Indonesia dalam periode dua tahun mendatang. Para ahli ekonomi menilai rendahnya kualitas penyerapan tenaga kerja dan minimnya produktivitas menjadi akar masalah utama di tengah gempuran adopsi teknologi kecerdasan buatan yang kian masif. Pemerintah didesak untuk segera menggeser fokus kebijakan dari sekadar mengejar angka pertumbuhan makro menuju penciptaan lapangan kerja padat karya yang berkualitas dan berkelanjutan.
Situasi kontradiktif antara lonjakan investasi dan risiko ketenagakerjaan ini menuntut pelaku bisnis untuk lebih adaptif dalam merancang strategi pengembangan sumber daya manusia. Investor perlu lebih cermat membidik sektor padat karya yang memiliki daya tahan tinggi, sementara masyarakat harus terus meningkatkan keterampilan vokasi dan teknologi agar tidak tergilas oleh otomatisasi industri yang bergerak cepat.
Kesuksesan pembangunan infrastruktur fisik dan capaian investasi tinggi akan menjadi kurang bermakna jika gagal menciptakan lapangan kerja yang layak bagi generasi muda. Pemerintah, swasta, dan institusi pendidikan wajib bersinergi menyelaraskan kurikulum pelatihan dengan kebutuhan riil industri agar bonus demografi tidak berubah menjadi bencana sosial di masa depan.