Sektor manufaktur Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja ekspansif yang menjanjikan berkat lonjakan permintaan domestik. Bank Indonesia diprediksi akan menahan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas Rupiah yang tengah melemah terhadap Dolar AS. Di sisi lain, pemerintah bergerak cepat menyiapkan ribuan hektare lahan eks HGU untuk relokasi hunian tetap bagi korban bencana di wilayah Sumatra.
Sektor industri pengolahan nasional kembali menunjukkan taringnya dengan mencatatkan kinerja ekspansif pada kuartal IV tahun 2025. Indeks Manufaktur Bank Indonesia (PMI-BI) merangkak naik ke level 51,86 persen, didorong oleh peningkatan volume produksi dan total pesanan yang signifikan dari pasar dalam negeri. Subsektor industri kertas, barang galian bukan logam, serta makanan dan minuman menjadi motor penggerak utama yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi. Tren positif ini diproyeksikan akan berlanjut hingga tahun 2026, terutama pada sektor-sektor yang berkaitan erat dengan kebutuhan harian masyarakat.
Meskipun permintaan melonjak, para pelaku industri masih menghadapi tantangan serius terkait pasokan bahan baku yang menghambat optimalisasi kapasitas produksi. Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengingatkan bahwa kelancaran rantai pasok dan pengendalian biaya operasional menjadi kunci vital agar momentum pertumbuhan ini tidak terhenti. Pelaku usaha diharapkan tetap waspada terhadap dinamika global, namun optimisme penguatan kinerja manufaktur dalam dua belas bulan ke depan tetap terjaga. Geliat sektor riil yang semakin kencang ini menuntut dukungan stabilitas moneter yang kokoh di tengah fluktuasi nilai tukar yang membayangi pasar keuangan.
Bank Indonesia (BI) diprediksi kuat akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur bulan Januari 2026 guna meredam gejolak nilai tukar. Nilai tukar Rupiah terpantau melemah hingga menyentuh angka Rp16.922 per dolar AS, kondisi yang memaksa otoritas moneter untuk memprioritaskan stabilitas mata uang dibandingkan pelonggaran agresif. Ekonom BCA, David Sumual, menilai langkah ini krusial untuk menjaga daya tarik aset Rupiah di mata investor global, sementara kebijakan fiskal diharapkan tetap konservatif dan hati-hati.
Tekanan terhadap Rupiah disinyalir terjadi akibat ketimpangan antara tingginya permintaan dolar untuk impor dan pembayaran utang dengan pasokan dolar yang tertahan di pasar domestik. Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, menambahkan bahwa penurunan suku bunga kemungkinan baru akan terjadi apabila The Fed memberikan sinyal pelonggaran yang jelas. Fokus utama BI saat ini adalah menjaga keseimbangan makroekonomi melalui intervensi pasar yang terukur. Di luar isu makroekonomi, pemerintah juga tengah bekerja keras menangani dampak sosial akibat bencana alam yang melanda wilayah Sumatra dengan solusi agraria yang konkret.
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) telah merampungkan identifikasi ribuan hektare lahan Hak Guna Usaha (HGU) untuk dijadikan lokasi hunian tetap (Huntap) bagi korban bencana. Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid, memastikan ketersediaan tanah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang berasal dari tanah terlantar maupun HGU yang telah habis masa berlakunya. Langkah strategis ini mencakup penyediaan 81.551 hektare lahan potensial di Aceh dan 88.445 hektare di Sumatra Barat untuk menjamin kepastian hukum tempat tinggal baru bagi warga terdampak.
Pemerintah memprioritaskan lahan yang berada dalam radius 1 kilometer dari lokasi bencana agar proses relokasi berjalan efektif dan aman bagi masyarakat. Kesiapan lahan ini diharapkan dapat mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana tanpa terkendala sengketa legalitas di kemudian hari. Sinergi antara penyediaan lahan yang cepat dan pembangunan fisik hunian menjadi bukti kehadiran negara dalam memulihkan kehidupan sosial ekonomi warga.
Kebijakan ekonomi yang ekspansif dan penanganan bencana yang responsif memberikan sinyal positif bagi iklim investasi, namun pelaku bisnis harus tetap mengantisipasi risiko volatilitas kurs yang dapat menggerus margin keuntungan. Investor disarankan untuk mengambil posisi defensif dengan mencermati sektor konsumer yang tangguh serta memantau kebijakan suku bunga bank sentral secara berkala.
Ketahanan ekonomi Indonesia di tahun 2026 akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga daya beli domestik sembari mengelola stabilitas nilai tukar secara disiplin. Pemerintah dan otoritas terkait harus segera mengeksekusi program relokasi bencana dan memastikan kelancaran pasokan industri agar roda ekonomi terus berputar kencang tanpa hambatan struktural.