Sektor perpajakan dan kepabeanan Indonesia kembali menghadapi isu integritas lembaga dan tantangan peningkatan kepatuhan wajib pajak. Menteri Keuangan semakin menegaskan sikap terkait wacana pembekuan Bea Cukai, yang muncul akibat keluhan dunia usaha. Pada saat yang sama, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memperketat pengawasan sektor pertambangan dengan mewajibkan pelunasan pajak sebagai bagian dari persyaratan perizinan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Meski demikian, pelaku usaha mengkhawatirkan aturan baru Kawasan Berikat yang dinilai berpotensi membuka ruang bagi praktik impor ilegal.
Menteri Keuangan Purbaya menegaskan bahwa ancaman pembekuan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bukanlah ancaman main-main, melainkan dapat betul-betul dibekukan, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendorong reformasi total di lembaga kepabeanan. Ketegasan ini muncul setelah Purbaya menerima keluhan langsung dari pengusaha baja terkait masalah layanan dan pengawasan Bea Cukai, yang mengindikasikan bahwa masalah tersebut berdampak nyata pada sektor industri strategis.
Secara paralel, DJP meningkatkan penegakan hukum di sektor sumber daya alam dengan terus mengejar kepatuhan dari pengusaha tambang. DJP mendorong integrasi data Minerba (ESDM) ke dalam sistem One CoreTax untuk meminimalkan potensi underreporting. Selain itu, pelunasan pajak kini menjadi syarat wajib untuk pengajuan RKAB, yang menurut Pengamat menjadi instrumen sanksi efektif bagi penambang yang tidak patuh.
Namun, di tengah pengetatan ini, Pengusaha mengungkapkan kekhawatiran bahwa aturan baru terkait Kawasan Berikat yang seharusnya mempermudah, justru berpotensi menjadi "mainan" mafia impor. Kekhawatiran ini menyoroti perlunya pengawasan yang ketat agar regulasi baru tidak disalahgunakan dan menghambat integritas perdagangan, sehingga pemerintah perlu mempelajari risiko regulasi baru ini secara serius.
Keseluruhan sorotan hari ini membawa implikasi besar pada tata kelola fiskal dan industri. Ancaman pembekuan Bea Cukai yang serius oleh Menkeu Purbaya menciptakan urgensi bagi DJBC untuk segera melakukan perbaikan mendasar guna memulihkan kepercayaan industri, seperti sektor baja. Sinergi DJP-ESDM dengan menjadikan pelunasan pajak sebagai syarat RKAB menjadi terobosan penting yang meningkatkan daya tekan otoritas pajak terhadap penambang nakal. Namun, kekhawatiran pengusaha bahwa aturan Kawasan Berikat baru dapat menjadi celah mafia impor memunculkan risiko bahwa niat baik regulasi justru melemahkan integritas perdagangan dan merugikan industri domestik yang patuh.
Selaras dengan itu, otoritas fiskal Indonesia berada dalam fase pengetatan penegakan hukum dan perombakan kelembagaan. Pemerintah menunjukkan ketegasan dalam menindaklanjuti keluhan industri melalui ancaman pembekuan Bea Cukai, sementara DJP menciptakan instrumen sanksi baru yang efektif bagi pengusaha tambang melalui syarat pelunasan pajak RKAB. Namun, pemerintah wajib merespons kekhawatiran pengusaha terkait celah mafia impor di Kawasan Berikat untuk memastikan reformasi berjalan adil dan tidak menciptakan risiko baru bagi integritas perdagangan nasional.