Neraca perdagangan Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan kontradiksi tajam di mana Amerika Serikat tampil sebagai pahlawan devisa dengan menyumbang surplus US$21,12 miliar, sementara China justru membebani dengan defisit dalam mencapai US$22,17 miliar. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa arus impor barang dari Negeri Panda melonjak drastis hingga menguasai 41,60% pangsa pasar nonmigas, yang membuat Indonesia semakin bergantung pada rantai pasok negara tersebut. Kendati tekanan impor memberat, total neraca perdagangan nasional tetap mampu mencetak surplus US$41,05 miliar berkat kinerja ekspor sektor manufaktur yang solid ke pasar global. Ketergantungan tinggi pada bahan baku impor ini memicu pemerintah untuk segera mengeksekusi strategi masif demi memperkuat struktur industri dalam negeri.
Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan pelaksanaan 18 proyek hilirisasi prioritas pada 2026 dengan nilai investasi fantastis mencapai Rp618 triliun demi memutus ketergantungan pada pihak asing. Proyek-proyek strategis ini mencakup pembangunan smelter aluminium, kilang minyak, hingga industri turunan kelapa sawit yang diproyeksikan mampu menyerap 276.800 tenaga kerja berkualitas bagi masyarakat. Kepala Negara menegaskan bahwa Indonesia tidak akan lagi mengemis investasi melainkan membangun kemandirian ekonomi dengan mengolah kekayaan alam di dalam negeri melalui skema pendanaan mandiri seperti Danantara. Seiring dengan dorongan kemandirian industri tersebut, pemerintah juga memperketat tali kendali penerimaan negara melalui skema pajak yang lebih tegas di sektor sumber daya alam.
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) berencana menjadikan pelunasan utang pajak sebagai syarat mutlak bagi perusahaan tambang yang ingin mengajukan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) demi mengamankan target penerimaan negara. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Riau mulai membidik potensi pendapatan asli daerah hingga Rp4 triliun per tahun dengan menerapkan pajak air permukaan khusus bagi korporasi perkebunan kelapa sawit raksasa. Langkah tegas ini bertujuan untuk mendisiplinkan pengusaha besar yang selama ini sulit tersentuh pajak serta memastikan eksploitasi sumber daya alam memberikan kontribusi maksimal bagi kas daerah.
Rangkaian kebijakan strategis ini memberikan sinyal kuat bahwa pelaku bisnis di sektor pertambangan dan perkebunan wajib segera meningkatkan kepatuhan pajak serta bersiap masuk ke dalam ekosistem industri hilir. Investor dapat memanfaatkan peluang besar pada 18 proyek baru yang ditawarkan pemerintah, sementara masyarakat luas akan diuntungkan oleh terciptanya lapangan kerja masif dan pendapatan daerah yang lebih kuat untuk pembangunan.
Indonesia kini tengah bergerak menuju era transformasi ekonomi baru yang mengurangi ketergantungan impor melalui hilirisasi agresif dan penegakan disiplin pajak bagi raksasa sumber daya alam. Para pemangku kepentingan sebaiknya segera menyelaraskan strategi bisnis dengan agenda nasional ini untuk mendapatkan manfaat maksimal dari momentum pertumbuhan ekonomi yang mandiri.