Isu reformasi fiskal, optimalisasi penerimaan, dan penguatan integritas kelembagaan kembali mewarnai pemberitaan perpajakan hari ini. Para ekonom menilai deregulasi dan pemberian insentif pajak dibutuhkan untuk mendorong pemulihan investasi yang masih lesu sepanjang 2025, sementara OECD merekomendasikan perluasan basis PPN sebagai langkah strategis untuk meningkatkan penerimaan negara. Di sisi kepabeanan, pelaku usaha menanggapi wacana pembekuan Bea Cukai dengan menekankan pentingnya penyempurnaan sistem, bukan perubahan institusi. Di tengah dinamika tersebut, terdapat sinyal positif dari peningkatan penerimaan Bea Cukai Jakarta yang telah menembus Rp11,4 triliun dan dinilai berpotensi melampaui target 2025.
Ekonom menilai bahwa investasi di tahun 2025 cenderung lesu. Oleh karena itu, mereka mendorong deregulasi dan pemberian insentif pajak yang lebih efektif sebagai kunci untuk mendorong kembali gairah investasi di tengah tantangan ini. Untuk meningkatkan penerimaan negara, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) merekomendasikan pemangkasan subsidi dan perluasan basis Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebagai resep utama. Selain itu, Ekonom Mandiri memberikan empat saran strategis kepada pemerintah yang berfokus pada perbaikan administrasi dan pengawasan yang lebih ketat untuk menggenjot setoran pajak.
Di sisi kepabeanan, Kantor Wilayah Bea Cukai Jakarta melaporkan penerimaan yang telah menembus Rp11,4 triliun. Capaian ini mengindikasikan bahwa target penerimaan 2025 berpotensi terlampaui, menunjukkan kinerja positif di tengah isu kelembagaan.
Terkait isu reformasi kelembagaan, Pengusaha memberikan respons terhadap ancaman pembekuan Bea Cukai. Mereka meminta agar pemerintah tidak mengganti institusi, melainkan memperbaiki sistem yang ada. Tuntutan ini menegaskan bahwa akar masalah berada pada tata kelola internal dan bukan pada keberadaan kelembagaan, yang perlu direspons serius oleh pemerintah.
Perkembangan hari ini membawa implikasi signifikan pada kebijakan fiskal dan iklim investasi. Rekomendasi OECD dan saran Ekonom Mandiri menciptakan peta jalan bagi pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan melalui perluasan PPN dan efisiensi subsidi. Namun, dorongan deregulasi dan insentif pajak menjadi sinyal bahwa pemerintah perlu merespons kondisi investasi yang lesu dengan kebijakan yang pro-bisnis. Sementara itu, respons pengusaha terhadap isu Bea Cukai menekankan fokus perbaikan pada sistem dan tata kelola internal, yang mendesak pemerintah untuk menerapkan reformasi secara struktural dan tidak hanya pergantian personel. Capaian Bea Cukai Jakarta yang tinggi menunjukkan potensi besar penerimaan jika kinerja institusi dapat dipertahankan.
Secara keseluruhan, kebijakan fiskal Indonesia sedang dihadapkan pada dua tuntutan besar: meningkatkan penerimaan melalui saran-saran reformasi OECD dan Ekonom, sekaligus meningkatkan iklim investasi yang lesu melalui deregulasi dan insentif pajak. Di sisi kelembagaan, pemerintah wajib memperhatikan tuntutan pengusaha untuk mereformasi sistem Bea Cukai secara mendalam dan struktural, bukan sekadar mengganti institusi, terutama mengingat potensi penerimaan yang tinggi seperti yang ditunjukkan oleh Bea Cukai Jakarta.