Presiden Prabowo membawa jurus "Prabowonomics" ke panggung dunia di Davos untuk memikat ribuan CEO global. Di dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya menepis isu politik sebagai penyebab gejolak kurs saat Rupiah justru berbalik menguat menjauhi angka keramat Rp17.000. Kabar baik juga datang dari BPJS Ketenagakerjaan yang sukses mencetak pertumbuhan investasi dua digit di tahun 2025.
Presiden Prabowo Subianto hari ini bertolak ke Swiss untuk menjadi pembicara utama dalam ajang bergengsi World Economic Forum (WEF) di Davos. Di hadapan 65 kepala negara dan lebih dari 1.000 CEO perusahaan raksasa dunia, Presiden akan membedah konsep ekonomi andalannya yang dijuluki "Prabowonomics". Sekretaris Kabinet Teddy Indrawijaya menjelaskan bahwa istilah ini merangkum strategi dan keberhasilan kebijakan ekonomi yang telah diterapkan pemerintah selama satu tahun terakhir.
Momen ini sekaligus menjadi panggung strategis bagi Indonesia untuk menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih menyelimuti pasar internasional. Kepercayaan diri di panggung dunia ini sejalan dengan upaya keras pemerintah menjaga stabilitas mata uang di dalam negeri yang sempat diterpa isu miring.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan tegas membantah spekulasi yang mengaitkan pelemahan Rupiah dengan pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Purbaya menegaskan bahwa tekanan terhadap mata uang garuda murni akibat dinamika pasar global, bukan karena sentimen politik internal terkait penunjukan keponakan Presiden tersebut.
Faktanya, pasar merespons positif klarifikasi ini di mana nilai tukar Rupiah pada perdagangan siang hari ini berhasil memukul balik dolar AS dengan menguat 0,19 persen ke level Rp16.903. Penguatan ini menjadi bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kokoh untuk menahan guncangan eksternal, selaras dengan kinerja institusi keuangan domestik yang justru mencatatkan rapor hijau yang mengesankan.
BPJS Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek berhasil menorehkan kinerja investasi yang gemilang dengan pertumbuhan dua digit pada tahun 2025 meskipun kondisi pasar keuangan sangat dinamis. Deputi Komunikasi BPJS Ketenagakerjaan, Erfan Kurniawan, melaporkan bahwa hasil investasi program Jaminan Hari Tua (JHT) tembus Rp36 triliun atau tumbuh 11,39 persen, sementara Jaminan Pensiun (JP) melonjak tajam 25,45 persen menjadi Rp14,69 triliun. Strategi penempatan dana pada instrumen yang aman dan stabil terbukti ampuh meningkatkan imbal hasil (yield) bagi para pekerja Indonesia.
Kombinasi antara diplomasi ekonomi tingkat tinggi oleh Presiden dan kinerja solid dana pensiun memberikan sinyal kuat bahwa Indonesia siap menghadapi tantangan ekonomi 2026. Pelaku pasar dan masyarakat tidak perlu panik berlebihan menanggapi fluktuasi kurs jangka pendek karena otoritas moneter dan fiskal terus berkoordinasi menjaga stabilitas.
Stabilitas makroekonomi yang terjaga dan jaminan sosial yang bertumbuh merupakan modal utama bagi investor untuk tetap menanamkan modalnya di Indonesia. Masyarakat disarankan untuk tetap tenang dan fokus pada produktivitas, sembari memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi ini untuk menata perencanaan keuangan jangka panjang secara lebih bijak.