Ekonomi Indonesia menunjukkan ketangguhan dengan mencetak surplus perdagangan selama 68 bulan berturut-turut yang disertai lonjakan impor barang modal sebagai sinyal ekspansi industri. Namun, anomali terjadi ketika indikator harga justru menunjukkan deflasi bulanan dan pelemahan daya beli masyarakat akibat tekanan pasar kerja. Fenomena "Rojali" atau rombongan jarang beli kini menjadi peringatan serius bagi stabilitas konsumsi kelas menengah di tahun 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatatkan surplus sebesar US$2,51 miliar pada Desember 2025, memperpanjang tren positif ini menjadi 68 bulan secara beruntun sejak Mei 2020. Surplus ini ditopang oleh ekspor nonmigas yang kuat serta diimbangi dengan kenaikan impor barang modal yang melonjak signifikan hingga 20,06% sepanjang tahun 2025, khususnya pada mesin dan peralatan mekanis. Kenaikan impor barang produktif ini mengindikasikan bahwa sektor manufaktur dan industri dalam negeri sedang bergeliat melakukan ekspansi kapasitas produksi guna menyambut peluang pertumbuhan ekonomi ke depan. Kendati sektor industri menunjukkan agresivitas dalam ekspansi, indikator harga di tingkat konsumen justru memperlihatkan anomali yang kontras di awal tahun.
Pasar domestik dikejutkan dengan data BPS yang mencatat terjadinya deflasi bulanan sebesar 0,15% pada Januari 2026, meskipun inflasi tahunan tercatat tinggi di angka 3,55% akibat efek basis rendah dari diskon tarif listrik tahun sebelumnya. Penurunan harga secara bulanan ini utamanya dipicu oleh melimpahnya pasokan pangan seperti cabai merah dan bawang merah, namun di sisi lain harga emas perhiasan justru merangkak naik. Kondisi deflasi pada kelompok makanan ini memberikan sinyal ganda, yakni terjaganya pasokan logistik atau justru tertahannya permintaan akibat daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Stabilitas harga pangan ini rupanya belum mampu mendongkrak konsumsi masyarakat secara maksimal yang justru tertahan oleh permasalahan struktural di pasar kerja.
Mandiri Institute dan BRIN menyoroti bahwa penurunan serapan tenaga kerja formal menjadi biang keladi melambatnya konsumsi, di mana pasar kerja formal hanya mampu menyerap 1,9 juta orang per tahun. Situasi ini memukul telak kelompok kelas menengah yang kini terjebak dalam fenomena "Rojali" atau Rombongan Jarang Beli, di mana masyarakat cenderung menahan belanja dan lebih memilih menabung akibat ketidakpastian pendapatan meski upah nominal mengalami kenaikan. Fenomena ini diperparah dengan tingginya pekerja yang beralih ke sektor informal, sehingga kerentanan ekonomi keluarga meningkat dan memicu risiko spiral deflasi jika tidak segera ditangani.
Kesenjangan antara performa makroekonomi yang solid dan rapuhnya fundamental daya beli mikro ini menuntut kewaspadaan tinggi dari para pelaku bisnis dan investor. Perusahaan perlu segera menyesuaikan strategi penetapan harga dan efisiensi produk untuk menyasar segmen kelas menengah yang semakin sensitif terhadap harga, sementara investor harus mencermati sektor-sektor yang defensif terhadap fluktuasi daya beli. Bagi masyarakat luas, kondisi ini menjadi sinyal penting untuk memperkuat dana darurat dan mengelola arus kas rumah tangga secara lebih konservatif di tengah ketidakpastian lapangan kerja.
Indonesia saat ini berdiri di atas dua kaki yang berbeda; ketahanan neraca dagang yang kokoh dan tantangan berat dalam menjaga daya beli rumah tangga. Pemerintah harus segera menyelaraskan kebijakan fiskal dengan strategi konkret penciptaan lapangan kerja formal yang berkualitas untuk mencegah fenomena "Rojali" menyeret turun target pertumbuhan ekonomi nasional.