Ringkasan Eksekutif:
Pemerintah merencanakan perluasan insentif PPh Pasal 21 bagi pekerja berpenghasilan di bawah Rp10 juta ke seluruh sektor usaha serta perpanjangan fasilitas PPN DTP perumahan hingga 2027. Di sisi lain, Menteri Keuangan menginstruksikan percepatan pemrosesan restitusi pajak bagi industri padat karya dan UMKM untuk mendukung arus kas perusahaan. Kedua agenda tersebut memerlukan perhitungan yang cermat agar manfaat ekonomi tetap sejalan dengan pengelolaan penerimaan negara.
Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan sejumlah insentif perpajakan untuk 2027 guna mendukung daya beli masyarakat dan mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Salah satu rencana utamanya adalah memperluas fasilitas PPh Pasal 21 bagi karyawan berpenghasilan di bawah Rp10 juta per bulan ke seluruh sektor usaha, dengan sasaran sekitar 7,5 juta pekerja. Pemerintah juga membahas perpanjangan fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah hingga 2027 serta mengkaji standar PPN bagi logam mulia berkadar 99,9%. Namun, rincian pelaksanaan dan kebutuhan anggaran berbagai insentif tersebut masih dibahas bersama kementerian dan lembaga terkait.
Selain mendukung daya beli pekerja, pemerintah berharap insentif tersebut dapat memperkuat konsumsi domestik. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. menilai perluasan fasilitas PPh Pasal 21 berpotensi meningkatkan kepercayaan konsumen, khususnya kelompok kelas menengah dan aspiring middle class. Namun, Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (CORE) menilai manfaatnya dapat terbatas karena sebagian pekerja berpenghasilan rendah memang tidak memiliki kewajiban PPh Pasal 21. Tambahan penghasilan yang dapat dibelanjakan bagi pekerja formal yang memenuhi kriteria diperkirakan berkisar dari puluhan ribu hingga sekitar Rp250.000 per bulan, bergantung pada tingkat penghasilannya. Ia juga mengingatkan pentingnya menyelaraskan rencana insentif dengan kemungkinan penyesuaian Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) agar biaya fiskal tidak meningkat tanpa tambahan manfaat ekonomi yang sepadan.
Di sisi penerimaan negara, Direktorat Jenderal Pajak tengah mengkaji dampak perluasan insentif terhadap proyeksi penerimaan pajak 2027 yang ditargetkan mencapai Rp2.593,3 triliun. DJP menyatakan akan menghitung kembali potensi penerimaan yang berkurang dan memberikan masukan terhadap kebijakan yang sedang direncanakan pemerintah. Ketua Komite Perpajakan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) pada prinsipnya mendukung insentif yang dapat membantu daya beli dan menggerakkan perekonomian. Namun, ia berharap potensi penurunan penerimaan akibat pemberian insentif tidak langsung direspons melalui intensifikasi pajak yang menambah beban pelaku usaha. Dengan demikian, perancangan kebijakan perlu mempertimbangkan manfaat bagi masyarakat sekaligus keberlanjutan penerimaan negara.
Selain membahas insentif baru, pemerintah juga menaruh perhatian pada pemenuhan hak wajib pajak melalui percepatan restitusi. Menteri Keuangan pada 9 Oktober 2026 menginstruksikan Direktur Jenderal Pajak agar mempercepat pemrosesan restitusi bagi wajib pajak yang berhak, khususnya industri padat karya dan UMKM yang membutuhkan dukungan arus kas. Berdasarkan data yang dikutip Bisnis.com, realisasi pencairan restitusi hingga akhir Agustus 2026 mencapai Rp191,82 triliun, turun 37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp304,29 triliun. Instruksi tersebut menegaskan perhatian pemerintah terhadap kelancaran pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagai salah satu faktor yang memengaruhi likuiditas dunia usaha.
Kalangan pengusaha menilai keterlambatan restitusi dapat mengganggu arus kas dan menekan produktivitas perusahaan. Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri Indonesia, juga mengingatkan bahwa persoalan restitusi dapat memengaruhi persepsi investor asing terhadap iklim usaha Indonesia. Sementara itu, Ketua Umum Apindo, menekankan pentingnya pemenuhan hak perpajakan dunia usaha secara tepat waktu. Meski demikian, percepatan restitusi tetap perlu dilaksanakan dengan memperhatikan proses pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku. Kepastian pemrosesan restitusi diharapkan membantu perusahaan mengelola kebutuhan operasional sekaligus menjaga keberlangsungan kegiatan usaha.
Secara keseluruhan, rencana perluasan insentif pajak dan percepatan restitusi mencerminkan dua upaya pemerintah dalam mendukung perekonomian, yaitu menjaga daya beli masyarakat dan membantu kelancaran arus kas dunia usaha. Pemerintah perlu merampungkan perhitungan fiskal dan memperjelas mekanisme pelaksanaan insentif 2027, sekaligus memastikan restitusi bagi wajib pajak yang berhak diproses sesuai ketentuan. Pelaku usaha juga perlu memantau perkembangan kebijakan serta menjaga kelengkapan dokumentasi perpajakan. Keseimbangan antara manfaat ekonomi, kepastian hak wajib pajak, dan keberlanjutan penerimaan negara menjadi kunci agar kebijakan perpajakan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.