Ringkasan Eksekutif:
Pemerintah merancang penyesuaian batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dengan mempertimbangkan inflasi sejak 2016, sementara tekanan harga pangan pada September 2026 menunjukkan inflasi volatile food sebesar 1,46% secara bulanan. Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia dan pemerintah memperkuat pengendalian inflasi serta mengantisipasi risiko gangguan cuaca, sementara Kementerian Keuangan menjaga daya tarik SBN dan cadangan devisa untuk mendukung stabilitas rupiah. Sinergi kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor di tengah dinamika perekonomian nasional.
Pemerintah akan mengusulkan penyesuaian batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dengan mempertimbangkan tingkat inflasi sejak 2016 hingga saat ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyampaikan bahwa keputusan penyesuaian tersebut telah berada pada tahap akhir dan tinggal menunggu persetujuan Menteri Keuangan sebelum dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
Pemerintah masih berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk menghitung dampak fiskal dari penyesuaian PTKP, termasuk potensi berkurangnya penerimaan pajak akibat kenaikan batas penghasilan yang tidak dikenai pajak. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwa pemerintah akan mengandalkan penerimaan pajak untuk menutup potensi tersebut. Penyesuaian PTKP juga tidak akan mengubah posisi defisit fiskal maupun kebijakan insentif PPh Pasal 21.
Di tengah rencana penyesuaian PTKP yang mempertimbangkan perkembangan inflasi, tekanan harga juga terlihat pada kelompok pangan bergejolak. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2026 sebesar 0,30% secara bulanan dan 3,28% secara tahunan. Kelompok harga bergejolak (volatile food) mencatat inflasi 1,46% secara bulanan dengan andil 0,24%, terutama didorong oleh kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, dan kangkung. Secara tahunan, inflasi volatile food mencapai 5,03%, dengan daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi menjadi komoditas dominan penyumbang inflasi.
Bank Indonesia (BI) terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk mengendalikan tekanan inflasi, termasuk mengantisipasi risiko gangguan cuaca ekstrem seperti El Nino. BI mengamati bahwa peningkatan inflasi volatile food berkaitan dengan penurunan produksi di sejumlah daerah sentra akibat gangguan cuaca serta kenaikan biaya input produksi. Sinergi BI bersama TPIP dan TPID serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) diharapkan menjaga inflasi volatile food tetap terkendali. Secara umum, BI meyakini inflasi IHK tetap berada dalam sasaran 2,5% ± 1% pada 2026 dan 2027, sementara inflasi inti dan administered prices tetap relatif terjaga.
Selain tekanan harga pangan, perekonomian juga menghadapi tantangan dari pergerakan nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar global. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas rupiah melalui upaya mempertahankan daya tarik Surat Berharga Negara (SBN) dan memperkuat cadangan devisa. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan bahwa penerbitan surat utang pemerintah dalam valuta asing, termasuk global bond, dapat berkontribusi terhadap penguatan cadangan devisa karena dana hasil penerbitannya yang ditempatkan di BI menjadi bagian dari cadangan devisa dan dapat digunakan untuk mendukung stabilitas nilai tukar.
Kemenkeu juga menekankan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan fiskal untuk mempertahankan kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia, termasuk SBN. Dalam kerangka APBN 2027, pemerintah menetapkan asumsi nilai tukar sebesar Rp17.500 per dolar AS dan defisit anggaran sebesar Rp671,16 triliun atau 2,4% terhadap PDB. Setiap pelemahan rupiah sebesar Rp100 per dolar AS diperkirakan berdampak negatif sekitar Rp3 triliun terhadap saldo APBN. Pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Rencana penyesuaian Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), pengendalian inflasi pangan, dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar menunjukkan respons pemerintah dan otoritas terkait terhadap dinamika perekonomian nasional. Penyesuaian PTKP masih menunggu persetujuan Menteri Keuangan, sementara Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada kelompok harga bergejolak, serta menjaga stabilitas rupiah melalui penguatan daya tarik Surat Berharga Negara (SBN) dan cadangan devisa.
Ke depan, perkembangan inflasi, nilai tukar rupiah, dan kredibilitas kebijakan fiskal akan menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas perekonomian. Pemerintah dan otoritas terkait terus memperkuat sinergi kebijakan untuk mengantisipasi risiko tekanan harga pangan akibat gangguan cuaca, mempertahankan kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia, serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas fiskal.