Ringkasan Eksekutif:
Bank Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp17.300 hingga Rp17.800 per dolar AS sepanjang 2026 di tengah kondisi global yang masih bergejolak. Indonesia dan India tengah mempercepat pembahasan integrasi sistem pembayaran digital QRIS dan UPI untuk mendukung transaksi pembayaran lintas negara bagi wisatawan kedua negara, dengan target implementasi sebelum akhir 2026 meskipun sejumlah aspek masih dalam pembahasan. Sementara itu, Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,3%, sedangkan daya dorong belanja APBN terhadap pertumbuhan ekonomi dinilai belum optimal.
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp17.300 hingga Rp17.800 per dolar AS sepanjang tahun 2026. BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional berada pada kisaran 5,2% hingga 6% dan mempertahankan proyeksi inflasi pada sasaran 2,5% ± 1%, sehingga inflasi diperkirakan berada dalam rentang 1,5% hingga 3,5%.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah berada di sekitar level Rp17.500 per dolar AS dan sempat mendekati Rp17.400 per dolar AS. Namun, kondisi global yang kembali bergejolak memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Gubernur BI mengatakan eskalasi perang Iran-Amerika yang semakin meningkat turut memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, Beliau juga mengatakan rupiah masih mampu bertahan di level Rp17.600-an per dolar AS.
Selain perkembangan nilai tukar rupiah dan kondisi perekonomian, Bank Indonesia juga terus memperluas kerja sama sistem pembayaran lintas negara.
Indonesia dan India tengah mempercepat integrasi sistem pembayaran digital antara Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan Unified Payments Interface (UPI) untuk mempermudah transaksi pembayaran ritel bagi wisatawan kedua negara. Integrasi tersebut nantinya memungkinkan wisatawan menggunakan aplikasi pembayaran yang telah dimiliki untuk memindai kode QR di negara tujuan tanpa perlu mengunduh aplikasi baru. Namun, integrasi QRIS dan UPI masih dalam tahap pembahasan dan belum mencapai kesepakatan final dalam sejumlah aspek.
Bank Indonesia (BI) dan Reserve Bank of India (RBI) tengah menyiapkan kerangka kerja sama antar pemerintah (government-to-government), sementara Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) dan National Payment of India (NPCI) membahas aspek teknis, operasional, dan bisnis integrasi tersebut. Meskipun belum terdapat kesepakatan final, BI dan ASPI mengupayakan agar integrasi QRIS dan UPI dapat diimplementasikan sebelum akhir 2026. Sementara itu, pengguna QRIS di Indonesia telah mencapai 67,5 juta dengan keterlibatan 45,5 juta merchant.
Sementara itu, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dan efektivitas belanja pemerintah juga menjadi perhatian.
Kepala Ekonom Maybank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,3%, sedikit di bawah target APBN sebesar 5,4%. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat menjadi 5,2% pada kuartal III 2026, sedangkan pada kuartal IV 2026 diproyeksikan berada pada kisaran 5,2% hingga 5,25%. Menurut Juniman, target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada tahun depan membutuhkan dorongan yang lebih besar dari sektor swasta.
Realisasi belanja APBN hingga Agustus 2026 tumbuh 17,1% secara tahunan, sedangkan pendapatan negara tumbuh 25,4%. Pada periode tersebut, APBN mencatat defisit sebesar Rp240 triliun atau 0,93% terhadap PDB, sementara keseimbangan primer masih surplus Rp154 triliun. Menurut Juniman, belanja pemerintah melalui APBN belum optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi karena kontribusi government spending sekitar 6% terhadap PDB, sedangkan konsumsi rumah tangga mencapai hampir 54% terhadap PDB.
Kepala Ekonom Maybank Indonesia memperkirakan tekanan terhadap defisit APBN akan meningkat mulai September seiring meningkatnya belanja pemerintah hingga Desember, terutama untuk pembayaran subsidi energi dan nonenergi. Ia memperkirakan defisit APBN pada Desember dapat mendekati 2,75% terhadap PDB, sementara proyeksi defisit APBN 2026 berada pada kisaran 2,8% hingga 2,93% terhadap PDB. Menurut Kepala Ekonom Maybank Indonesia, pemerintah perlu melakukan refocusing, efisiensi, dan meningkatkan efektivitas belanja, serta memperkuat peran sektor swasta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Secara keseluruhan, ketiga perkembangan tersebut menunjukkan dinamika perekonomian Indonesia dari sisi nilai tukar, sistem pembayaran digital, dan kebijakan fiskal. Bank Indonesia memproyeksikan nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp17.300 hingga Rp17.800 per dolar AS sepanjang 2026 di tengah kondisi global yang masih bergejolak. Pada sisi sistem pembayaran, Indonesia dan India tengah mempercepat pembahasan integrasi QRIS dan UPI untuk mendukung transaksi pembayaran lintas negara, dengan target implementasi sebelum akhir 2026 meskipun sejumlah aspek masih belum mencapai kesepakatan final.
Sementara itu, dari sisi fiskal, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai 5,3% menurut Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman, sementara daya dorong belanja APBN terhadap pertumbuhan ekonomi dinilai belum optimal. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar, perluasan konektivitas sistem pembayaran digital, serta efektivitas belanja pemerintah menjadi bagian dari dinamika perekonomian Indonesia sepanjang 2026.