Ringkasan Eksekutif:
Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan ekspansi lebih kuat pada Oktober 2026, sementara neraca perdagangan September tetap mencatat surplus US$3,36 miliar. Di tengah peningkatan impor dan tekanan ekonomi global, permintaan domestik, investasi, konsumsi, serta kebijakan fiskal menjadi sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Perekonomian Indonesia memasuki kuartal IV/2026 dengan sejumlah indikator yang menunjukkan perkembangan positif. Aktivitas manufaktur berdasarkan Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September. Capaian tersebut menunjukkan ekspansi sektor manufaktur yang semakin kuat dan menjadi yang tertinggi sejak Maret 2024. Pada periode yang sama, inflasi bulanan juga melandai menjadi 0,22%, dibandingkan 0,30% pada September.
Dari sisi perdagangan, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$3,36 miliar pada September 2026. Meskipun masih berada pada posisi surplus, nilainya lebih rendah dibandingkan US$3,55 miliar pada bulan sebelumnya. BPS mencatat ekspor mencapai US$27,59 miliar, sedangkan impor sebesar US$24,23 miliar. Secara tahunan, ekspor tumbuh 11,87%, sementara impor meningkat lebih tinggi sebesar 18,41%. Perbedaan laju pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi juga diikuti oleh kebutuhan impor yang semakin besar.
Kondisi perdagangan tersebut menjadi perhatian karena pertumbuhan impor sepanjang Januari–September 2026 mencapai 19,67%, jauh melampaui pertumbuhan ekspor sebesar 5,58%. Meskipun demikian, sektor industri pengolahan tetap berperan penting dalam menopang ekspor. Pada September 2026, nilai ekspor industri pengolahan mencapai US$23,27 miliar atau setara dengan 87,36% dari total ekspor nonmigas. Perkembangan ini memperlihatkan kontribusi industri pengolahan terhadap perdagangan luar negeri, sekaligus menunjukkan bahwa penguatan manufaktur perlu diimbangi dengan kemampuan memenuhi kebutuhan bahan baku dan barang modal secara efisien.
Sebelum data resmi September dirilis, sejumlah ekonom telah memperkirakan surplus perdagangan akan menyusut akibat peningkatan impor. Kepala Ekonom Bank Mandiri memperkirakan surplus sebesar US$2,25 miliar, sedangkan Kepala Ekonom BCA David Sumual memproyeksikan surplus yang lebih rendah, yakni US$1,52 miliar. Kedua proyeksi tersebut dipengaruhi oleh perkiraan peningkatan impor, termasuk akibat pemulihan pasokan dari sejumlah negara Asia dan kenaikan harga minyak mentah Brent yang mencapai 15,8% secara bulanan. Dari sisi ekspor, kenaikan harga batu bara sebesar 11,7% menjadi US$146 per ton serta peningkatan permintaan dari sejumlah mitra dagang turut menjadi faktor pendukung. Namun, realisasi surplus sebesar US$3,36 miliar pada akhirnya lebih tinggi dibandingkan perkiraan kedua ekonom tersebut.
Di tengah dinamika perdagangan dan tekanan eksternal, permintaan domestik masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkan pengamat inovasi dan kebijakan publik, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal I/2026 dan 5,29% pada kuartal II/2026. Prospek pertumbuhan sepanjang 2026 juga diperkirakan tetap berada di atas 5%. IMF memperkirakan pertumbuhan sebesar 5,1%, sedangkan Bank Dunia memproyeksikan 5,2%. Meski demikian, tekanan harga energi global tetap menjadi tantangan, terutama karena Indonesia masih mengimpor minyak sekitar satu juta barel per hari.
Dari sisi kebijakan fiskal, pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi, yaitu Pertalite dan Biosolar, hingga akhir 2026. Kebijakan tersebut dipandang sebagai salah satu upaya APBN untuk meredam dampak kenaikan harga energi global terhadap daya beli masyarakat. Sementara itu, aktivitas manufaktur dan investasi juga memperlihatkan perkembangan positif. PMI Bank Indonesia pada kuartal III/2026 tercatat sebesar 52,28, sedangkan realisasi investasi mencapai Rp528,7 triliun. Penyaluran kredit perbankan tumbuh 13,26% secara tahunan, dengan kredit investasi meningkat 23,20%. Indikator tersebut menunjukkan adanya aktivitas pembiayaan dan pengembangan kapasitas usaha di tengah tantangan ekonomi global.
Aktivitas konsumsi masyarakat turut memberikan dukungan terhadap perekonomian. Transaksi uang elektronik pada Juli–Agustus 2026 mencapai Rp226,47 triliun, sedangkan volume transaksi QRIS pada kuartal III/2026 tumbuh 75,80%. Selain itu, penyelenggaraan berbagai acara berskala nasional dan internasional turut mendorong perputaran ekonomi daerah. Salah satunya adalah MotoGP Mandalika pada Oktober 2026 yang diperkirakan memberikan dampak ekonomi berganda sekitar Rp5 triliun. Namun, optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi tetap perlu disikapi secara seimbang. Survei LPEM UI semester II/2026 menunjukkan bahwa 52% dari 63 ekonom menilai kondisi ekonomi memburuk dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Berbagai indikator tersebut memperlihatkan bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki sejumlah sumber pertumbuhan, mulai dari aktivitas manufaktur, investasi, konsumsi, hingga dukungan kebijakan fiskal. Namun, peningkatan impor yang lebih cepat daripada ekspor, ketergantungan terhadap sejumlah komoditas, serta tekanan harga energi global tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan. Bagi dunia usaha, kondisi ini menunjukkan pentingnya menjaga efisiensi biaya produksi, memperkuat rantai pasok, serta mengelola kebutuhan bahan baku dan pembiayaan secara cermat.
Ke depan, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat sekaligus memperkuat daya saing industri dalam negeri agar peningkatan aktivitas produksi dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap ekspor dan penciptaan lapangan kerja. Di sisi lain, pelaku usaha perlu memanfaatkan peluang pertumbuhan domestik dengan meningkatkan produktivitas dan mengantisipasi perubahan biaya impor. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dari angka statistik, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan keberlanjutan dunia usaha.