Danantara Geser Dominasi China di Krakatau Steel, Konsumen Riang Gembira, tapi Pengusaha Masih "Pelit" Lowongan Kerja!

Taxindo Prime Consulting
Senin, 09 Februari 2026 | 10:34 WIB
00:00
Optimum dengan Google Chrome
Danantara Geser Dominasi China di Krakatau Steel, Konsumen Riang Gembira, tapi Pengusaha Masih "Pelit" Lowongan Kerja!

Ringkasan

Danantara resmi mengambil alih kendali pembiayaan proyek pabrik baja Krakatau Steel, menggeser peran investor China menjadi sekadar mitra teknologi. Optimisme konsumen melonjak ke titik tertinggi dalam setahun terakhir, namun paradoks terjadi di sektor riil di mana pengusaha justru menahan rekrutmen karyawan baru. Sementara itu, pemerintahan Prabowo bersiap merombak total skema insentif fiskal demi menarik investasi berkualitas.

Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia membuat langkah strategis dengan mengambil alih dukungan pendanaan bagi proyek hilirisasi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS). Keputusan ini secara otomatis menggeser posisi investor asal China, yang sebelumnya digadang-gadang menjadi penyandang dana utama, kini hanya berpotensi menjadi mitra penyedia teknologi tanpa kendali mayoritas.

Direktur Komersial KRAS, Hernowo, menegaskan bahwa masuknya Danantara memastikan kendali proyek strategis berkapasitas 3 juta ton per tahun ini tetap berada sepenuhnya di tangan Indonesia. Groundbreaking pabrik yang ditargetkan mengurangi impor baja ini dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026 sebagai prioritas utama hilirisasi tambang nasional.

Semangat kemandirian industri ini sejalan dengan pulihnya kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional di awal tahun. Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Januari 2026 melonjak ke level 127, angka tertinggi dalam satu tahun terakhir. Kenaikan optimisme ini merata di hampir seluruh kelompok pengeluaran, terutama didorong oleh generasi muda berusia 20-30 tahun yang semakin yakin dengan prospek penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja. Namun, harapan tinggi masyarakat akan lapangan kerja ini justru bertabrakan dengan realitas keras yang terjadi di lantai produksi industri manufaktur.

Para pengusaha industri mesin dan logam kini cenderung menahan diri untuk membuka lowongan kerja tetap meskipun pesanan proyek domestik sedang melimpah. Ketua Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma), Dadang Asikin, mengungkapkan bahwa tipisnya margin keuntungan memaksa perusahaan menerapkan strategi wait and see dengan lebih memilih tenaga kerja kontrak atau borongan. Selain itu, pergeseran ke arah otomatisasi mesin yang lebih efisien membuat lonjakan output produksi tidak lagi berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja manusia secara masif.

Merespons tantangan penyerapan tenaga kerja dan kebutuhan investasi ini, Presiden Prabowo Subianto berencana merombak total skema insentif fiskal seperti tax holiday dan tax allowance. Pemerintah akan menata ulang kriteria penerima insentif agar lebih tepat sasaran, memprioritaskan sektor padat karya berorientasi ekspor serta industri berteknologi tinggi. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyambut baik rencana ini, namun mewanti-wanti agar pemerintah membereskan masalah birokrasi yang selama ini membuat insentif pajak sulit diakses dan penuh ketidakpastian.

Dinamika awal tahun 2026 ini menghadirkan situasi yang kontradiktif: sentimen konsumen dan ambisi pemerintah sangat tinggi, namun sektor swasta masih berhati-hati dalam berekspansi tenaga kerja. Investor perlu mencermati efektivitas implementasi Danantara dan insentif fiskal baru, apakah mampu menjembatani celah antara pertumbuhan makro dan penyerapan tenaga kerja riil. Bagi pencari kerja, peningkatan keterampilan teknis menjadi mutlak karena industri kian gemar menggunakan mesin otomatis dibandingkan menambah jumlah karyawan.

Pemerintah harus memastikan bahwa "karpet merah" yang digelar melalui Danantara dan insentif pajak tidak hanya mempercantik angka investasi di atas kertas, tetapi benar-benar menciptakan lapangan kerja yang diharapkan oleh masyarakat yang sedang optimis.


Artikel Selengkapnya
02 Maret 2026 • Taxindo Prime Consulting | Arya Hibatullah - Lilik F Pracaya, Ak., CA., ME., BKP (C)
02 Maret 2026 • Taxindo Prime Consulting | Sonya Marthayori, S.E., BKP (B)., APCIT - Lilik F Pracaya, Ak., CA., ME., BKP (C)
Putusan Selengkapnya
14 Januari 2026 • Taxindo Prime Consulting | Dita Rahmah Fitri - Lilik F Pracaya, Ak., CA., ME., BKP (C)
PUT-006540.102023PPM.XIIIA Tahun 2025 - 21 Agustus 2025
14 Januari 2026 • Taxindo Prime Consulting | Dita Rahmah Fitri - Lilik F Pracaya, Ak., CA., ME., BKP (C)
PUT-010233.272024PPM.XA Tahun 2025 - 28 Agustus 2025
Siapa Kami
Taxindo Prime Consulting (TPC) hadir sebagai mitra strategis terpercaya yang bergerak secara komprehensif di bidang konsultasi perpajakan, akuntansi, pengembangan bisnis, dan hukum bisnis. Dengan komitmen terhadap integritas dan profesionalisme, TPC berdedikasi untuk memberikan lebih dari sekadar jasa konsultasi; kami menyediakan edukasi, saran taktis, serta solusi konkret. Seluruh layanan kami dirancang untuk membedah dan menyelesaikan permasalahan perpajakan maupun bisnis klien secara objektif, mendalam, dan sepenuhnya independen demi menjaga kepatuhan dan keberlanjutan usaha.
KANTOR
Mega Plaza Building 12th Floor
Jl. H.R. Rasuna Said Kav C-3 Jakarta 12940

Phone :
+62 21 521 2686
+62 817 001 3303

Email :
info@taxindo.co.id
Copyright © 2025 Taxindo Prime Consulting

Seluruh konten di website ini hanya disajikan untuk tujuan informasi dan edukasi umum. Informasi ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti nasihat atau konsultasi perpajakan profesional yang spesifik untuk situasi Anda. Kami sangat menganjurkan Anda untuk menghubungi tim konsultan kami secara langsung guna mendapatkan panduan dan nasihat yang tepat.

Taxindo Prime Consulting
Kalkulator Pajak dan Transfer Pricing
Kalender Pajak
×
Newsletter